Polisi sebut harga sabu-sabu di Jakarta naik karena stok menipis

Polisi sebut harga sabu-sabu di Jakarta naik karena stok menipis. Tingginya harga sabu-sabu di Jakarta ditengarai mengundang para bandar untuk mencetak untung besar. Mereka berupaya memasok narkotika itu.

Yan Muhardiansyah
Oleh Yan Muhardiansyah - Reporter
Polisi sebut harga sabu-sabu di Jakarta naik karena stok menipis
Ilustrasi Narkoba. ©2014 Merdeka.com

Polisi memperkirakan stok sabu-sabu di Jakarta sudah menipis sehingga harganya melambung. Kondisi itu dimanfaatkan para bandar untuk memasok barang haram itu ke Ibu Kota."Stock opname (sabu-sabu) di Jakarta sekarang tipis sekali, sehingga harganya melambung. Saat ini harga 1 gram di Jakarta mencapai Rp 2,5 juta. Di Papua 1 gram Rp 3,5 juta," jelas Direktur IV Tindak Pidana Narkotika Bareskirm Polri, Brigjen Eko Daniyanto, di RS Bhayangkara Medan, Kamis (23/3).Tingginya harga sabu-sabu di Jakarta ditengarai mengundang para bandar untuk mencetak untung besar. Mereka berupaya memasok narkotika itu.Para bandar jaringan narkoba ini bisa meraup miliaran rupiah dari setiap Kg sabu yang dipasok ke Jakarta. Mereka diperkirakan membayar sekitar Rp 200 juta per Kg sabu di Malaysia. "Sampai di Aceh atau Medan menjadi Rp 400 juta-Rp 600 juta per Kg. Lalu kalau sampai di Jakarta bisa menjadi Rp 2,5 miliar," jelas Eko.Dia merinci, sejauh ini bandar jaringan Malaysia-Aceh-Medan-Jakarta, yang paling sering muncul. Sementara jaringan yang langsung dari China atau Iran belum banyak terpantau. Salah satu jaringan narkoba itu diungkap Direktorat IV Tindak Pidana Narkotika Bareskirm Polri pekan ini. Seorang bandar dan koordinator transporternya ditembak mati di Sumut, Selasa (21/3) dinihari. Keduanya bersama sejumlah kurir diduga telah memasok sekurangnya 91 Kg sabu-sabu, 350.000 butir pil ekstasi, dan 450.000 butir pil happy five yang dipasok dari Medan. Sebagian besar sudah didistribusikan di Jakarta.

Rekomendasi