Perludem Nilai Kudeta di Myanmar Jadi Refleksi Indonesia Mengelola Pemilu

Terlebih saat ini Indonesia juga alami perdebatan terkait revisi UU Pemilu. Sebab itu perlu adanya sistem demokrasi yang baik terkait hal tersebut.

Intan Umbari Prihatin
Oleh Intan Umbari Prihatin - Reporter
Perludem Nilai Kudeta di Myanmar Jadi Refleksi Indonesia Mengelola Pemilu
Direktur Eksekutif Perludem Titi Anggraini. ©2020 Merdeka.com/Rifa Yusya Adilah

Anggota Dewan Pembina Perkumpulan Pemilu untuk Demokrasi (Perludem) Titi Anggraini menilai fenomena Myanmar perlu menjadi pembelajaran untuk Indonesia. Salah satunya terkait Pemilu yang terjadi di negara tersebut.

"Refleksi untuk Indonesia, pemilu sejatinya adalah untuk mengelola konflik, jadi dari ujung peluru ke surat suara," kata Titi dalam diskusi 'Seruan untuk Menerapkan Prosedur Elektoral yang Demokratis di Myanmar', Sabtu (6/2).

"Tetapi kalau pemilu tidak dipertahankan untuk melahirkan sebuah keadilan elektoral dia bisa digunakan untuk sebaliknya" tambah Titi.

Terlebih saat ini Indonesia juga alami perdebatan terkait revisi UU Pemilu. Sebab itu perlu adanya sistem demokrasi yang baik terkait hal tersebut.

"Ini kita perlu refleksi, bahwa sekali lagi sekarang kita ada perdebatan revisi UU Pemilu dan lain sebagai ini perlu menjadi refleksi bersama terlebih soal sistem," beber Titi.

Sebelumnya diketahui Sebelumnya diketahui Militer Myanmar kemarin menggulingkan pemerintahan demokratis yang rapuh dalam sebuah kudeta dengan menangkap sejumlah pemimpin sipil, memutus jaringan internet, dan menutup penerbangan.

Kudeta tersebut mengembalikan negara itu ke kekuasaan penuh militer setelah pelaksanaan demokrasi singkat yang dimulai pada 2011, ketika militer, yang telah berkuasa sejak 1962, menggelar pemilu parlemen dan reformasi lainnya.

Rekomendasi