Menteri LHK Jelaskan Alasan Indonesia Masih Lakukan Deforestasi

"Kalau konsepnya tidak ada deforestasi, berarti tidak boleh ada jalan, lalu bagaimana dengan masyarakatnya, apakah mereka harus terisolasi? Sementara negara harus benar-benar hadir di tengah rakyatnya," kata Siti di acara Persatuan Pelajar Indonesia (PPI) di Universitas Glasgow.

Intan Umbari Prihatin
Oleh Intan Umbari Prihatin - Reporter
Menteri LHK Jelaskan Alasan Indonesia Masih Lakukan Deforestasi
Menteri LHK Siti Nurbaya raker dengan Komisii IV DPR. ©2021 Merdeka.com

Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Siti Nurbaya, menjelaskan alasan Indonesia masih melakukan deforestasi. Salah satunya untuk pembangunan jalan warga pedalaman di daerah Kalimantan dan Sumatera yang selama ini harus melewati jalan setapak di hutan.

"Kalau konsepnya tidak ada deforestasi, berarti tidak boleh ada jalan, lalu bagaimana dengan masyarakatnya, apakah mereka harus terisolasi? Sementara negara harus benar-benar hadir di tengah rakyatnya," kata Siti di acara Persatuan Pelajar Indonesia (PPI) di Universitas Glasgow, dikutip dalam keterangan pers, Kamis (4/11).

Data kementerian LHK, lebih dari 34 ribu desa berada di kawasan hutan dan sekitarnya. Dengan kondisi tersebut, Siti menilai perlu adanya deforestasi agar masyarakat memiliki akses jalan.

Dalam kesempatan yang sama, kata Siti, melalui agenda FoLU Net Carbon Sink, Indonesia menegaskan komitmen mengendalikan emisi dari sektor kehutanan dan penggunaan lahan sehingga terjadi netralitas karbon sektor kehutanan pada tahun 2030. Menurutnya, kekayaan alam Indonesia termasuk hutan harus dikelola pemanfaatannya menurut kaidah-kaidah berkelanjutan di samping tentu saja harus berkeadilan.

"Kita juga menolak penggunaan terminologi deforestasi yang tidak sesuai dengan kondisi yang ada di Indonesia," bebernya.

Dia mencontohkan seperti di negara Eropa sebatang pohon ditebang di belakang rumah yang masuk kategori deforestasi. Tetapi di Indonnesia, tentu tidak bisa langsung dikatakan demikian.

Oleh sebab itu, Siti mengajak semua pihak untuk berhati-hati memahami deforestasi dan tidak membandingkan terminologi deforestasi antar negara. Sebab akan ada perbedaan konsep dengan negara lainnya.

"Jadi harus ada compatibilty dalam hal metodologi bila akan dilakukan penilaian. Oleh karenanya pada konteks seperti ini jangan bicara sumir dan harus lebih detil. Bila perlu harus sangat rinci," bebernya.

Rekomendasi