Menengok usaha Komaruddin di Denpasar, produksi 1 ton garam halus tiap hari

Juragan Komaruddin, menceritakan awal membuka usaha rumah sejak tahun 2000. Rumah produksi garam tersebut, berada di Jalan By Pass Ngurah Rai, Gang Ulam Segara, Suwung, Denpasar Selatan.

Moh. Kadafi
Oleh Moh. Kadafi - Reporter
Menengok usaha Komaruddin di Denpasar, produksi 1 ton garam halus tiap hari
Pembuat garam tradisional di Bali. ©2018 Merdeka.com/Moh Kadafi

Suara musik dangdut Bang H. Rhoma Irama yang berduet dengan Elviy Sukaesih, keluar dari radio lapuk yang tergantung di pojok ruangan rumah produksi garam tradisional, menemani dua pekerja memasak garam.

Kedua pekerja tersebut bernama Haris dan Siswanto, mereka mempunyai tugas masing-masing. Siswanto mengaduk-aduk air garam yang direbus menggunakan sekop kecil di sebuah tungku yang terbuat dari batu bata berukuran sekitar 1x2 meter.

Sedangkan Haris, mengangkut karung besar yang berisi garam kasar, lalu meletakkan di sebuah kotak kayu tempat melarutkan garam yang berukuran 1x 2 meter.

"Karyawan saya ada empat, yang dua masih pulang ke kampungnya di Jawa," ucap Bapak Komaruddin, juragan rumah produksi garam tradisional saat ditemui, Rabu (17/10) sore.

Juragan Komaruddin, menceritakan awal membuka usaha rumah sejak tahun 2000. Rumah produksi garam tersebut, berada di Jalan By Pass Ngurah Rai, Gang Ulam Segara, Suwung, Denpasar Selatan.

Untuk garam yang diproduksi adalah garam halus yang tidak mengandung yodium. Garam tersebut adalah hasil dari olahan garam kasar, yang ia pesan dari Madura Sampang, Jawa Timur.

"Garam kasarnya dari Madura, kemudian diolah kembali di sini," imbuh pria asal Lombok Timur NTB ini.

Untuk penjualan garam halusnya, Komaruddin sudah mempunyai langganan tetap dan dijual di daerah Bali dalam per hari penjualannya bisa mencapai ratusan kilo garam.

"Kalau pemesanan garam lancar, kadang dari Gianyar dan daerah lainnya. Kita tidak keliling kadang orangnya (pelanggan) datang sendiri, dan dijual ke warung-warung dan pasar," jelasnya.

Dalam sebulan, Komaruddin bisa memesan garam kasar sebanyak 10 sampai 15 ton dari Madura. Kemudian, diolah kembali hingga menjadi garam halus, dan dalam sehari produksi menghasilkan 10 karung atau sekitar 1 ton.

Sementara untuk proses garam halusnya, dimulai dari melarutkan garam kasar ke air. Setelah larut kemudian air garam tersebut diambil dan direbus selama 3 jam. Setelah dianggap cukup, garam yang sudah mengkristal tersebut kemudian diletakan di sebuah keranjang bambu dan dijemur hingga menjadi keras dan warnanya berubah menjadi putih.

"Di sini kita jual garam kasar dan garam halus. Tapi yang banyak laku adalah garam halus. Dalam sehari kita bisa melakukan tiga kali pemasakkan," ungkapnya.

Untuk garam halusnya, Komaruddin menjual perkeranjang atau sekitar 3 kg seharga Rp 20.000. Sementara untuk garam kasar ia jual 1 Kg seharga Rp 4.000.

Sementara, untuk naik turunnya harga garam dan impor garam, atau omzet yang ia dapat, Komaruddin tidak perna memikirkannya, menurutnya yang penting penjualam garamnya lancar.

"Kalau omzet saya tidak perna hitung, yang penting cukup bayar pekerja, biyaya anak sekolah, dan bayar rumah kontrakan itu saja," tutupnya sambil mematikan rokok merk Gudang Garamnya ke asbak di dekatnya.

Rekomendasi