Pemerintah memutuskan tidak lagi menerapkan kewajiban tes PCR maupun antigen bagi perjalanan domestik. Selain itu, pemerintah memberlakukan masa karantina pelaku perjalanan luar negeri hanya satu hari.
Direktur Pasca Sarjana Universitas YARSI, Prof Tjandra Yoga Aditama memberikan sejumlah masukan kepada pemerintah untuk mendukung kelancaran pelaksanaan kebijakan tersebut.
Pertama, rumah sakit dan sistem kesehatan harus selalu siap untuk mengantisipasi peningkatan kasus Covid-19. Kedua, vaksinasi primer perlu terus ditingkatkan sampai 70 persen dari total penduduk.
"Bukan hanya 70 persen dari sasaran yang ditetapkan," katanya melalui pesan singkat, Selasa (8/3).
Ketiga, vaksinasi booster masih harus ditingkatkan maksimal. Angka cakupan vaksinasi booster sekitar 5 sampai 6 persen saat ini terbilang masih terlalu rendah. Keempat,
angka kematian akibat Covid-19 secara nasional masih perlu dikendalikan.
"Diharapkan dapat kembali ke data awal Januari 2022 di mana yang wafat tidak sampai 10 orang per hari," sambungnya.
Kelima, angka positivity rate masih perlu ditekan hingga di bawah 5 persen dan reproduksi efektif kurang dari 1. Keenam, surveilans (kasus probable/confirmed dan juga gejala/sindromik) harus terus dilakukan secara ketat, sehingga jika ada peningkatan kasus bisa terdeteksi lebih awal.
Terakhir, Whole Genome Sequencing (WGS) perlu ditingkatkan untuk mendeteksi lebih awal jika muncul varian baru Covid-19.
"WGS perlu ditingkatkan untuk wanti-wanti dan deteksi dini kalau ada varian baru, dapat termasuk juga surveilan limbah," ujarnya.
Mantan Direktur Penyakit Menular WHO Asia Tenggara ini mengatakan kasus terkonfirmasi positif Covid-19 di Tanah Air secara umum sudah melandai. Dia berharap, kasus terus menurun seperti yang terjadi pada Desember 2021, meski masih ada kemungkinan fluktuasi. Saat itu, kasus Covid-19 hanya bertambah sekitar 100 sampai 200 dalam sehari.