Pemerintah melalui Surat Keputusan Bersama (SKB) empat menteri memperluas cakupan untuk metode belajar tatap muka meliputi zona hijau dan kuning Covid-19. Kebijakan itu diharapkan dilakukan dengan penuh kehati-hatian.
Wakil Ketua Komisi X DPR RI, Hetifah Sjaifudin, mengharapkan kebijakan memperluas zona pembelajaran tatap muka harus dipastikan persyaratannya dengan tetap memprioritaskan kesehatan dan keselamatan siswa dan guru.
"Harus ada mekanisme dari pemerintah untuk mengontrol bahwa memang sekolah yang akan dibuka benar-benar memenuhi daftar periksa. Jangan sampai itu hanya menjadi formalitas dan di lapangan tidak dilakukan," ujar Hetifah kepada wartawan, Sabtu (8/8)
Bahkan, dia menyarankan kepada pemerintah untuk mempersiapkan tim sidak maupun ikut terjun langsung memantau penerapan pembelajaran tatap muka yang akan berlangsung.
"Jikalau perlu juga bisa disiapkan sanksi bagi sekolah ataupun pemda yang terbukti belum memenuhi prasyarat tapi sudah berani membuka," tegasnya.
Selain itu, Hetifah walaupun ada perluasan zona belajar tatap muka, diharapkan fasilitas pembelajaran jarak jauh (PJJ) harus tetap ditingkatkan, bagi orangtua yang memilih untuk anaknya tidak mengikuti belajar tatap muka ke sekolah.
"Semisal, proses belajar mengajar di kelas divideokan atau siswa lain bisa mengikuti melalui aplikasi telekonferensi. Jangan karena sekolah dibuka, mayoritas siswa masuk sekolah yang memilih untuk tetap di rumah jadi terdiskriminasi," jelasnya.
Selanjutnya, terkait kurikulum darurat yang telah dikeluarkan Kemendikbud, Hetifah menilai lebih baik para tenaga pengajar menggunakan kurikulum tersebut supaya efektif dan efisien.
"Lebih baik sudah semuanya pakai yang sederhana saja. Yang tatap muka pun di kondisi seperti ini pasti akan stres kalau disuruh mengejar materi terlalu banyak. Guru-guru juga akan banyak sekali bebannya, karena harus mengajar lebih dari satu sif," jelasnya.
Terakhir, Hetifah berharap penerapan sistem belajar tatap muka bagi para siswa harus menjadi opsi terakhir apabila proses PJJ tidak bisa dilakukan sama sekali.
"Kalau memang masih bisa di rumah, sebaiknya di rumah saja. Tapi kalau memang sulit dengan alasan keterbatasan internet, atau orangtua bekerja, barulah tatap muka ini dipilih sebagai opsi terakhir dengan protokol yang ketat," ujarnya.