Ketua Satuan Tugas (Satgas) Penanganan Covid-19, Doni Monardo meminta Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) mewaspadai dan mengantisipasi adanya strain atau varian baru Covid-19. Dia mengingatkan, varian baru SARS-CoV-2 itu bisa masuk melalui transportasi udara maupun Pos Lintas Batas Negara (PLBN).
"Kita harus antisipasi," tegasnya saat Rapat Koordinasi Penanganan Covid-19 bersama Pemerintah Provinsi NTT di Kawasan Nusa Dua, Bali, Sabtu (3/4).
Pemerintah Provinsi NTT yang diwakili Wakil Gubernur, Josef Nae Soi hadir secara daring dalam rapat tersebut. Mengantisipasi masuknya varian baru Covid-19, Doni meminta Pemerintah Provinsi NTT segera membentuk Satgas Karantina.
Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) ini menegaskan, pemerintah daerah harus mengambil langkah cepat untuk mewaspadai masuknya varian baru Covid-19.
"Kalau kita membiarkan, maka yang meninggal lebih awal akan bertambah banyak," ujarnya.
Doni menambahkan, mobilitas pelaku perjalanan internasional yang masuk wilayah Indonesia masih tinggi. Situasi ini turut mengontribusi temuan kasus Covid-19 di tanah air.
Hingga kini, pemerintah mencatat ada 1.480 pelaku perjalanan internasional yang masuk ke Indonesia melalui Bandara Internasional Soekarno-Hatta, Tangerang. 687 Di antaranya terkonfirmasi positif Covid-19 setelah melalui proses karantina dan menjalani pemeriksaan PCR sebanyak dua kali. Padahal, sebelumnya mereka membawa serta dokumen bebas Covid-19 dari luar negeri.
Berkaca dari fenomena tersebut, Doni meminta seluruh pemangku kebijakan daerah termasuk lintas kementerian atau lembaga, unsur TNI dan Polri untuk memperhatikan betul pelaku perjalanan yang masuk ke Indonesia.
"Kalau pasukan kita dari TNI/Polri, Kementerian Kesehatan, Imigrasi dan semuanya tidak punya kepedulian kepada program ini, maka 687 orang yang pulang ke kampung, lantas ketemu keluarganya ada yang kelompok rentan, kemudian terpapar Covid-19 dan nggak ada fasilitas kesehatan, maka lewat," tandasnya.