Better experience in portrait mode.
Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan

Guru besar UNJ: Dalam matematika proses lebih penting

Guru besar UNJ: Dalam matematika proses lebih penting soal matematika. ©2014 Merdeka.com

Merdeka.com - Seorang guru kelas 2 SD di Semarang, Jawa Tengah, memberikan nilai 20 pada Pekerjaan Rumah (PR) salah satu siswanya bernama Habibi. Padahal jika dilihat jawaban Habibie, semua jawaban muridnya tersebut benar dan seharunya mendapat nilai 100. Tapi guru Habibi punya penilaian lain.

Menanggapi hal itu, pakar pendidikan Arief Rachman mengatakan, dalam pembelajaran matematika proses mendapatkan hasil jawaban sangat penting. Meski melalui proses yang berbeda dan mendapatkan hasil sama menurutnya tidak ada yang bisa disalahkan.

"Keunggulan proses lebih penting daripada keunggulan hasil. Bagaimana proses mereka mendapatkan hasil itu yang harus diargumentasikan," kata Arief kepada merdeka.com, Senin (22/9).

Guru Besar Universitas Negeri Jakarta (UNJ) ini melanjutkan, di dalam evaluasi ada kebenaran ilmu tertentu secara ilmiah. Kebenaran ilmu bisa diuji oleh diskusi. Menurutnya kalau mengacu dari permasalahan tersebut tentu yang disalahkan adalah sang guru.

"Tapikan kita belum tahu bagaimana cara guru tersebut menilai. Ini memang sering terjadi, ada kemungkinan guru keliru ada kemungkinan murid keliru. Semua ini seharusnya didiskusikan oleh yang bersangkutan," jelas Arief.

soal matematika

Arief mengatakan, pemberian nilai setiap guru kepada muridnya memang berbeda-beda. Dia mencontohkan, dalam kasus ini bisa saja guru matematika yang lain membenarkan jawaban yang dibuat oleh Habibi.

"Saya melihat kalau keduanya merasa benar ini tidak menyelesaikan masalah. Apalagi sampai dimasukkan media sosial. Untuk menyelesaikan masalah seharusnya, orangtua murid, guru yang bersangkutan, dan pihak sekolah duduk bareng membahas hal ini," jelasnya

Sebelumnya, PR matematika milik Habibi, murid SD kelas 2 di Semarang, ramai dibahas di media sosial setelah diunggah kakaknya ke Facebook. Dari 10 soal matematika, hanya dua yang betul.

Sang kakak, Erfas tidak terima dengan penilaian guru. Mahasiswa Jurusan Teknik Mesin Universitas Diponegoro merasa yakin dengan jawaban soal yang ditulis adiknya, karena dia membantu mengerjakan soal.

Erfas mengajari Habibi jawaban 4+4+4+4+4+4 = 4 x 6 = 24. Ternyata jawaban itu salah, versi guru yang benar adalah 4+4+4+4+4+4 = 6 x 4 = 24. Hasil sama namun konsep beda.

(mdk/has)
Geser ke atas Berita Selanjutnya

Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya

Buka FYP