Better experience in portrait mode.
Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan

Gagasan Hasil Seminar Pramuktamar Muhammadiyah ke-48 di UMJ akan Dibawa ke Muktamar

Gagasan Hasil Seminar Pramuktamar Muhammadiyah ke-48 di UMJ akan Dibawa ke Muktamar Muhammadiyah. ©istimewa

Merdeka.com - Seminar pramuktamar Muhammadiyah ke-48 digelar di Universitas Muhammadiyah Jakarta (UMJ) sejak Rabu, 16 Maret 2022. Seminar yang bertema 'Rekonstruksi Sistem Ketatanegaraan Indonesia' ini berlokasi di Aula Fakultas Ekonomi dan Bisnis UMJ.

Seminar dibagi menjadi dua sesi. Sesi pertama diisi oleh Prof. Titi Anggraini, Prof. Syarif Hidayat, Dr. phil. Ridho Al-Hamdi MA., dan Dr. Endang Sulastri, M.Si.

Kemudian dilanjut dengan sesi kedua yang diisi oleh Dr. Ma'mun Murod Al-Barbasy, M.Si., Dr. Refly Harun, M.A., LL.M., Dr. Hajriyanto Y Thohari, M.A., dan Drs. Himawan Bayu Patriadi, MA., Ph.D. Hadir pula Prof. Dr. Abdul Mu’ti, M.Ed., selaku Sekretaris Umum PP Muhammadiyah dan Keynote Speaker, Prof. Dr. Jimly Ash-Shiddiqie (Anggota DPD RI tahun 2019-2024).

Sekretaris Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Prof Abdul Mu'ti mengatakan masukan atau gagasan besar dalam seminar tersebut akan dibawa ke Muktamar Muhammadiyah. Hasil seminar tersebut merupakan bentuk sumbangan pemikiran dalam kehidupan, kebangsaan dan kemanusiaan yang universal.

"Rangkaian seminar yang diselenggarakan ini sebagai upaya bagaimana mendapatkan masukan dan gagasan besar dalam rangka Muktamar Muhammadiyah dan Aisyiyah yang diselenggarakan di Surakarta pada November mendatang. Rekomendasi dari seminar-seminar pra-Muktamar ini akan dibawa ke Muktamar mendatang," kata Sekretaris Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Prof Abdul Mu'ti di Jakarta, Kamis (17/3). Seperti dilansir Antara.

Rektor Universitas Muhammadiyah Jakarta (UMJ), Ma'mun Murod mengatakan saat ini terjadi kecenderungan global, yakni mundurnya demokrasi. Tidak hanya terjadi di negara berkembang, tetapi juga negara maju. Kemunduran juga terjadi di Amerika Serikat dalam praktik-praktik tertentu.

"Ada tiga kepemimpinan otoritarian yang bisa jadi pandangan, pertama kepemimpinan yang kuat dengan ditopang kelompok masa yang kuat, sehingga menjadi kuat. Kemudian, pemimpin yang kuat dengan ditopang militer, dan terakhir pemimpin yang lemah dengan ditopang oligarki. Oleh karena itu, perlu upaya bersama agar demokrasi tidak berjalan mundur," tutup dia.

(mdk/ded)
Geser ke atas Berita Selanjutnya

Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya

Buka FYP