Forum OOC 2018 mampu perkuat visi RI menuju poros maritim dunia

Forum Our Ocean Conference (OOC) 2018 yang berlangsung di Nusa Dua, Bali, dianggap sebagai ajang strategis untuk Indonesia. Sebab forum ini diyakini akan memperkuat visi menuju kepemimpinan poros maritim dunia.

Randy Ferdi Firdaus
Oleh Randy Ferdi Firdaus - Reporter
Forum OOC 2018 mampu perkuat visi RI menuju poros maritim dunia
forum our ocean conference 2018 di nusa dua Bali. ©2018 Merdeka.com/istimewa

Forum Our Ocean Conference (OOC) 2018 yang berlangsung di Nusa Dua, Bali, dianggap sebagai ajang strategis untuk Indonesia. Sebab forum ini diyakini akan memperkuat visi menuju kepemimpinan poros maritim dunia.

Oleh sebab itu, usaha pemerintah Indonesia pada OOC 2018 guna menuju keinginan tersebut patut direspon positif serta didukung oleh seluruh masyarakat.

Demikian disampaikan Direktur Pusat Kajian Pembangunan Kelautan dan Peradaban Maritim Universitas Trilogi, Muhammad Karim, Rabu (31/10).

"Forum yang amat strategis untuk Indonesia. Sudah berbicara mengenai apa yang mau diunggulkan secara ekonomi dengan menjadi poros maritim dunia. Seperti halnya Nusantara dulu terkenal sebagai negeri kaya rempah-rempah," ujar Karim.

Menurut Karim, mencapai Indonesia sebagai poros maritim berarti memberikan perhatian utama kepada budaya bahari Nusantara. Kemudian mentransformasinya ke sektor ekonomi nasional.

"Bicara poros maritim, masyarakat nelayan harus menjadi aspek yang diperhitungkan. Transformasi budaya kemaritiman dalam konteks ekonomi harus ditonjolkan," ucap Karim.

Sisi lainnya yang dikemukakan Karim menyoal kebijakan Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti yang ingin membuat sistem pelacakan komitmen perjanjian dari para negara-negara perwakilan peserta OOC 2018. Menurut Karim, inisiasi Menteri Susi tersebut adalah cara yang baik dan inovatif.

Diketahui, inisiasi sistem pelacakan komitmen OOC disebabkan sewaktu pelaksanaan di Malta, dari 433 perjanjian, hanya 101 dinyatakan terpenuhi.

"Komitmen yang dirumuskan tentunya harus didorong lebih spesifik, konkret dan jelas konsepnya. Sehingga semua pihak melaksanakannya dan mudah dilakukan monitoring. Itu sudah langkah yang tepat," kata Karim.

Sedangkan Ketua Pusat Kajian Sumberdaya Pesisir dan Lautan Institut Pertanian Bogor (PKSPL IPB) Ario Damar, berpendapat, tindakan dan kebijakan yang dilakukan Susi Pudjiastuti selaras dengan arah menuju Indonesia sebagai poros maritim dunia.

Ario menuturkan, itu tampak pada kebijakan perlindungan kepada nelayan, terutama menengah dan kecil. Sehingga dapat dikategorikan ada keberpihakan ke nelayan sebagai salah satu syarat poros maritim.

Ario menyebutkan, keberpihakan Susi Pudjiastuti misalnya amat kentara pada soal pemberantasan ilegal fishing. Itu menjadi terapi yang ampuh dan akhirnya menjaga kehidupan nelayan sebagai fondasi poros maritim.

"Isunya sekarang, arah pengembangan sektor perikanan dan kelautan justru mendorong lagi ke ekonomi yang lebih melejit. Fokusnya kepada industri perikanan. Tentunya hal tersebut harus terus dibarengi dengan kebijakan pengelolaan industri perikanan yang arahnya pada ekonomi biru, yakni memperbaiki dan memanfaatkan laut ke dalam perspektif lebih efisien, penuh inovasi teknologi dan zero waste," kata Ario.

Forum OOC 2018 berlangsung selama dua hari yakni tanggal 29-30 Oktober. Forum OOC 2018 yang saat ini Indonesia menjadi tuan rumah merupakan pelaksanan kelima kalinya.

OOC 2018 dihadiri oleh 8 kepala negara, lebih dari 1900 perwakilan dari 70 negara, 30 pejabat setingkat Menteri, 38 organisasi internasional, 290 NGO dan sektor privat.

Ada enam isu yang dibahas pada OOC 2018 yakni, pengelolaan perikanan berkelanjutan, polusi laut, kawasan konservasi laut, keamanan laut, perubahan iklim dan ekonomi biru.

Rekomendasi