Secara simbolik, 1.449 eks pekerja seks komersial (PSK) Dolly dan Jarak telah menerima uang Rp. 7.313.000.000 dari Kementerian Sosial (Kemensos) dan Rp 1.550.000.000 untuk 311 mucikari dalam bentuk rekening tabungan. Dan secara simbolik pula, lokalisasi terbesar se-Asia Tenggara yang berada di Kelurahan Putat Jaya, Kecamatan Surabaya, Jawa Timur itu, resmi ditutup oleh Pemkot Surabaya, Rabu malam (18/6).Dengan dibacakannya deklarasi dan penandatanganan nota kesepahaman terkait rehabilitasi sosial, pendidikan, kesehatan dan pemeliharaan keamanan oleh 107 perwakilan eks PSK, mucikari dan warga sekitar lokalisasi, tamat sudah riwayat legenda bisnis esek-esek yang didirikan oleh perempuan keturunan Belanda, Tante Dolly itu.Deklarasi penutupan yang digelar di Gedung Islamic Center Jalan Dukuh Kupang itu, disaksikan langsung oleh Menteri Sosial, Salim Segaf Al Jufri, Gubernur, Soekarwo beserta wakilnya, Syaifullah Yusuf (Gus Ipul), Ketua PWNU Jawa Timur, KH Mutawakkil Alallah, Ketua MUI Jawa Timur, KH Abdussomad Buchori, Kapolda Jawa Timur, Irjen Unggung Cahyono, serta Forpimda Kota Surabaya beserta seluruh undangan yang hadir.Gubernur Jawa Timur, Soekarwo mengatakan, proses penutupan lokalisasi yang dilakukan Pemkot Surabaya, yang dikomandoi Tri Rismaharini memang tidaklah mudah. Perlu proses panjang yang harus dilalui. "Dan ujian itu telah diselesaikan dengan baik hingga deklarasi penutupan digelar pada Rabu malam. Pemprov Jawa Timur sangat mengapresiasi niat dan tekad dari Pemkot Surabaya tersebut," kata Soekarwo.Gubernur yang akrab disapa Pakde Karwo ini berharap, dengan ditutupnya lokalisasi Dolly dan Jarak ini, bisa memberi dampak lebih baik di kawasan prostitusi yang melegenda itu, yaitu dengan menjamin taraf hidup layak bagi masyarakat di sekitar Dolly dan Jarak."Meskipun demikian, penutupan Dolly dan Jarak ini, ibarat menyapu, dalam prosesnya memang tidak seluruhnya (kotoran) akan terangkut. Namun, niatnya menutup, dengan memberi sesuatu yang positif, semoga bisa memberi kehidupan yang lebih baik," ucap Pakde Karwo."Saya mendukung penuh dengan apa yang dilakukan oleh Pemkot Surabaya. Meskipun tidak semua bisa dibersihkan, tapi niat melakukan perubahan di Surabaya adalah kecemerlangan yang patut diapresiasi," sambung dia.Senada, Mensos Salim Segaf Al Jufri, mengatakan, harus ada perubahan di daerah. Pimpinan daerah harus bisa melayani dan mencintai rakyat. "Permasalahan sosial memang tanggung jawab pemerintah kota. Dan permasalahan ini membuat saya bangga bisa diselesaikan oleh kepala daerah, khususnya Kota Surabaya," kata Salim.Dan menurut Salim, niat dan keberanian Risma menutup lokalisasi Dolly adalah prestasi yang cukup membanggakan. "Kita berikan apresiasi. Hari ini kita mengukir sejarah luar biasa. Saya dengar Dolly umurnya sudah 100 tahun. Kita harus melakukan perubahan terhadap segala hal yang melanggar. Itu kalau kita ingin negara kita diperhitungkan dunia," tegas dia.
Deklarasi selesai digelar, Gang Dolly hanya sisakan nama
Upaya Risma menutup lokalisasi Dolly mendapat apresiasi dari berbagai pihak.
Advertisement
Rekomendasi