Cuaca ekstrem, potensi longsor & banjir ancam Bogor
Merdeka.com - Warga Bogor dibayang-bayangi bencana longsor dan banjir. Terlebih selama sepekan terakhir cuaca ekstrem yang ditandai dengan hujan deras terus terjadi.
Pada Rabu (07/09) dini hari, hujan terjadi selama lebih dari tiga jam membuat beberapa proyek tebing penahan tanah (TPT) talud di Kota Bogor longsor. Akibatnya, ada rumah tertimbun dan menewaskan Azhar (50), salah satu pekerja proyek talud di Kampung Ardio, Kelurahan Cibogor, Bogor Tengah, Kota Bogor.
Potensi terjadinya longsor dan banjir itu berdasarkan prakiraan Stasiun Klimatologi (pemantau hujan) Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Dramaga, Bogor. Maka dari itu warga yang tinggal di bantaran sungai maupun di dataran tinggi diimbau untuk mewaspadai cuaca ekstrem selama September ini.
Kepala Stasiun Klimatologi (pemantau hujan) BMKG melalui Stasiun Klimatologi (pemantau hujan) Dramaga, Bogor Dedi Sucahyo mengungkapkan hujan dengan intensitas tinggi atau deras ini masih berpeluang hingga akhir September 2016.
"Rata-rata hujan pada pekan ini di atas normal (50 milimeter) yakni 70 hingga 95 milimeter atau disebut intensitas tinggi. Bukan hanya di Bogor, tapi di seluruh daerah Jabodetabek juga sama. Namun yang tertinggi terjadi di Kota Bogor dengan intensitas 95 mm disertai embusan angin dengan kecepatan 40 km/jam," katanya, Kamis (8/9).
Lebih lanjut dia mengungkapkan, selain intensitasnya yang tinggi, dengan durasi di atas 3 jam sangat rentan timbulnya bencana longsor maupun banjir. Maka dari itu, pihaknya mengimbau agar masyarakat Kota Bogor tetap waspada. Bukan hanya hingga akhir September tapi hingga awal tahun 2017.
Menurutnya, intensitas hujan akan terus naik hingga pada puncaknya Oktober dan November mendatang. Bahkan pada dua bulan menjelang akhir tahun intensitas hujan semakin deras dengan durasi bisa lebih lama dari yang sekarang.
"Secara geografis Bogor memang kota hujan, pada September ini merupakan masa peralihan musim. Kecenderungan cuaca ekstrem dengan ciri siang terasa terik dan sore menjelang malam hujan deras disertai angin kencang akan lebih sering terjadi," tambahnya.
Diberitakan sebelumnya, pasca bencana longsor yang menewaskan Azhari (50) satu dari empat pekerja proyek pembangunan talud di Kampung Ardio, di RT 04 RW 05 Kelurahan Cibogor, Bogor Tengah, Kota Bogor, Pemkot Bogor merelokasi sejumlah warga yang tinggal di lokasi-lokasi yang rawan longsor.
Bahkan Wali Kota Bogor Bima Arya Sugiarto yang meninjau lokasi bencana longsor pada Rabu (7/9) mengungkapkan, selain karena faktor cuaca, longsor hingga menimbulkan korban jiwa di Kampung Ardio, Kelurahan Cibogor itu dikarenakan adanya unsur kelalaian dari para pekerja maupun pengawas proyek.
Selain melihat langsung kondisi terkini, Bima juga berdialog dengan sejumlah petugas gabungan dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Bogor dan Taruna Siaga Bencana (Tagana). Bima juga berdialog dengan warga sekitar mengenai kronologis kejadian tersebut.
"Memang seharusnya para pekerja (pekerja proyek pembangunan talud) itu tidak tinggal di bangunan rumah (yang tertimbun longsor) itu, karena sangat tidak aman," ungkap Bima.
Maka dari itu, lanjut Bima, seluruh proyek pembangunan talud di Kota Bogor harus diawasi secara ketat, mengingat lokasinya cukup berbahaya, terlebih akhir-akhir ini hujan yang mengguyur wilayah Bogor cukup deras.
"Nanti saya minta supaya dicek lagi proyek pembangunannya agar tidak membahayakan para pekerja. Semestinya pengawas juga mengawasi dengan baik pekerjaan itu dan memperhatikan keselamatan," ujarnya. (mdk/dan)
Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya