Khairul Ghazali alias Abu Yasin (50) pernah beraliran keras dan mengaku sudah mendoktrin ratusan orang untuk bertindak radikal. Kini dia berbelok arah dan mendukung deradikalisasi. Ghazali ditangkap saat menjadi imam salat Magrib di rumahnya, Jalan Bahagia Gang Sehat, Kelurahan Bunga Tanjung, Datuk Bandar, Tanjung Balai, Sumut pada 19 Desember 2010. Dua orang tamunya tewas ditembak dalam penyergapan yang berlangsung sebulan setelah perampokan Bank CIMB Niaga, Jalan Aksara, Medan, pada 18 Agustus 2010.Pria berkacamata ini kemudian dijatuhi majelis hakim Pengadilan Negeri (PN) Medan dengan hukuman 5 tahun penjara karena membantu para tersangka teroris yang terlibat perampokan Bank CIMB Niaga itu. Lalu, majelis hakim Pengadilan Tinggi (PT) Medan mengubah hukumannya menjadi 6 tahun penjara. Dia baru keluar tahanan pada tahun lalu setelah mendekam selama 4 tahun 2 bulan."Saya mendapat pembebasan bersyarat, sekarang status saya masih bebas bersyarat, tahun depan baru saya bebas murni," sebutnya, Sabtu (3/9).Selama di tahanan, Ghazali melanjutkan kiprahnya sebagai penulis buku. Buku yang dia tulis selama di tahanan di antaranya 'Aksi Perampokan Bukan Fai' dan 'Mereka Bukan Thagut'. Royalti dari buku-buku yang bertentangan dengan paham radikal itu cukup membantunya sekeluar dari penjara.Ghazali membeli lahan seluas 7.000 meter persegi di Dusun 4 Desa Mencirim, Kutalimbaru, Deli Serdang, Sumut. Dia membangun pesantren untuk anak-anak teroris di sana.Ada sejumlah alasan Ghazali mendirikan pesantren yang diberi nama Darusy Syifaa itu. Salah satunya dia merasa terpanggil karena anak-anak itu terlantar pendidikannya. "Negara tidak mengurus anak-anak ini. Ada stigma negatif sehingga mereka dikucilkan masyarakat dan tidak nyaman di sekolah. Selain itu, tidak ada biaya karena tulang punggung keluarga meninggal, masuk penjara atau menjadi buruan aparat keamanan. Saya juga khawatir mereka mengikuti jejak orangtuanya," jelas Ghazali.Menurut Ghazali upaya deradikalisasi yang dilakukannya lebih tepat ke sasaran. Selama ini upaya yang dilakukan pemerintah lebih pada seminar-seminar yang justru tidak dihadiri pihak-pihak yang berpaham radikal. "Entah mereka takut mengundang atau bagaimana. Tapi yang hadir justru bukan dari kelompok radikal, sehingga kurang tepat sasaran," ucapnya. Faktor ekonomi juga belum menjadi perhatian pada upaya deradikalisme. Padahal kesenjangan ekonomi merupakan salah satu faktor yang menyuburkan radikalisme. "Masalah ekonomi ini sangat penting diperhatikan, karena itu kami di pesantren mengajarkan kewirausahaan kepada santri," sambung Ghazali.Pemahaman dan upaya Ghazali dalam deradikalisasi ini bertolak belakang dibanding sebelum dia masuk penjara. "Dulu ada ratusan orang yang kami doktrin untuk bertindak radikal dalam berjihad," akunya. "(Sekarang) kita ajarkan Islam yang sebenarnya. Kita ajarkan jihad yang sebenarnya, bahwa di sini bukan daerah konflik, bahwa Islam rahmatan lil 'alamin, bahwa Islam mengajarkan kasih sayang." Perubahan pemahaman Ghazali soal gerakan jihad bukannya tanpa tentangan. Banyak pihak, termasuk sejumlah mantan rekannya yang radikal, tidak suka dengan langkahnya. Dia disebut pengkhianat. "Ada yang bisa menerima, juga ada tidak senang. Saya disebut pengkhianat, boneka BNPT (Badan Nasional Penanggulangan Terorisme). Tapi itu tak masalah, di negara ini siapa saja bebas berpendapat," katanya.Kecuali kini berbelok mendukung deradikalisasi, tak ada yang berubah dari ibadah yang dijalankan Ghazali. Dia menjadi imam salat di pesantrennya. Tampilannya juga tetap mengenakan celana di atas mata kaki, baju koko, dan kopiah lebai di kepalanya. Janggut masih menggantung di dagunya.
Buat pesantren, eks teroris dicap pengkhianat oleh mantan rekan
Ghazali dijebloskan ke penjara pada 2010 karena terlibat kegiatan teroris dan perampokan Bank CIMB Niaga.
Advertisement
Rekomendasi