Masyarakat Lombok, Nusa Tenggara Barat, sampai saat ini masih terus mengalami gempa susulan. Gempa pertama kali mengguncang Lombok pada Minggu (29/7) dengan kekuatan 6,4 SR. Kemudian gempa susulan terjadi pada Minggu (5/8) dengan kekuatan 7 SR, dan Minggu (19/8) kemarin dengan kekuatan 6,4 SR pada siang hari dan 6,9 SR di malam hari.
Kepala Pusat Data, Informasi dan Humas BNPB Sutopo Purwo Nugroho mengatakan, telah terjadi 180 gempa susulan sejak terjadi gempa pada Minggu (19/8) kemarin malam, hingga Selasa (21/8) pukul 09.00 WIB.
"Dari 180 gempa tersebut terdapat 13 gempa dirasakan dengan magnitude 4 SR-5,6 SR pada kedalaman 10 km," katanya di kantor BNPB, Jakarta Timur, Selasa (21/8).
Selain itu, dia pun menyebut sejak terjadi gempa dengan kekuatan 7 SR pada Minggu (5/8) lalu, terdapat gempa susulan sebanyak 825 kali.
"Jadi jika ditotal sejak tanggal 5 Agustus 2018 sampai 21 Agustus 2018 pukul 09.00 WIB pagi tadi ada sebanyak 1.005 kali gempa susulan," ujarnya.
Sebelumnya, dari sejak (29/7) hingga (8/8) kemarin Lombok dan juga Bali mengalami gempa susulan sebanyak 318 kali. Gempa susulan itu ketika terjadinya gempa pada Minggu (29/7) lalu dengan kekuatan 6,4 SR.
Kepala Pusat Data, Informasi dan Humas BNPB Sutopo Purwo Nugroho mengatakan, dari sebanyak 318 gempa susulan hanya 17 gempa susulan saja yang getarannya sangat dirasakan warga Lombok dan juga Bali. Oleh karena itu, dirinya mengimbau kepada masyarakat agar tetap tenang dalam menghadapi musibah ini.
"Gempa susulan yang ada saat ini hanya SR-nya 3-5,6. Jadi ketika terjadi gempa tidak terjadi kerusakan, namun guncangannya tetap terasa. Tetapi tidak merusak dan tidak menimbulkan korban jiwa," kata Sutopo di Kantor BNPB, Jakarta Timur, Rabu (8/8).
Sutopo pun mengaku, pihaknya tidak bisa memprediksi sampai kapan terjadinya gempa susulan yang terjadi di Lombok maupun Bali. "Sampai kapan? Kita tidak bisa memprediksi, tapi akan terus terjadi di lapangan," pungkasnya.