Badan Intelijen Negara (BIN) menemukan faktor generasi milenial saat ini sangat rentan menjadi target utama perekrutan kelompok teroris, lantaran aktifnya generasi milenial dalam menggunakan sosial media sangat mudah mengakses ideologi radikal.
"Kemudian menggunakan milenial dari pencarian jadi diri serta masalah pribadi membuat kalangan milenial rentan terpapar paham radikal," kata Deputi VII BIN Wawan Hari Purwanto saat diskusi virtual, Selasa (31/8).
Wawan menyebut generasi milenial yang menjadi sasaran utama yaitu mereka yang masih rentan usia sekitar 17 sampai 24 tahun yang mudah terpapar dengan akses internet. Kemudian dampaknya, bisa membangun lone wolf atau serangan seorang diri yang merupakan aksi paling memungkinkan terjadi kedepannya.
"Akhirnya tercatat beberapa alasan anak muda rentan terpapar radikalisme, diantaranya kemudahan mengakses internet dan banyaknya waktu luang. Konten dan narasi radikal ini disebar dengan mudah dan diakses generasi mudah langsung ke gadget termasuk dia bisa tanya jawab," ujarnya.
Terlebih ketika aktif menggunakan gadget, kata Wawan, generasi milenial cenderung sedang mencari jati diri serta eksistensi yang dapat dengan mudah dimasuki paham radikal, melalui konten-konten di media sosial.
"Penyebaran paham radikal yang sering kali dibumbui narasi heroisme banyak dikirim ke gadget-gadget anak muda untuk merangsang mereka bergerak," jelasnya.
Lantas, Wawan mengutip kondisi satu tahun ke belakang dengan kemajuan internet telah memberikan dampak naiknya sikap intoleran. Seperti survei Wahid Institute tahun 2020, sikap intoleransi di Indonesia juga cenderung meningkat dari sebelnya sekitar 46% dan saat ini menjadi 54%.
"Sementara itu studi mukthahir di PPIK UIN Jakarta tahun 2021 menyebutkan sebanyak 24,89% mahasiswa memiliki sikap toleransi beragama yang rendah. Dan sebanyak 5,27% lainnya tergolong memiliki sikap toleransi beragam yang sangat rendah," katanya.