Banyak penelitian soal bencana belum tersampaikan ke masyarakat

Peneliti menghadapi kendala bahasa dalam menyampaikan materi penelitian.

Iman Herdiana
Oleh Iman Herdiana - Reporter
Banyak penelitian soal bencana belum tersampaikan ke masyarakat
Diskusi mitigasi bencana. ©2015 Merdeka.com/ Iman Herdiana

Isu pengurangan dampak risiko bencana (mitigasi bencana) masih dipandang elite bagi sebagian masyarakat di Indonesia. Padahal hampir semua jenis bencana alam ada di negeri ini. Sementara hasil penelitian ilmuwan atau akademisi kurang tersampaikan ke masyarakat.Wartawan senior peliput bencana, Ahmad Arif, ada semacam batas antara jurnalis dan ilmuwan. Menurutnya hal itu perlu dijembatani melalui forum bersama antara ilmuwan dan wartawan. Diharapkan dalam forum akan terjadi transfer pengetahuan tentang mitigasi bencana kepada wartawan. Sehingga ketika menulis artikel bahasa yang digunakan merupakan bahasa populer agar lebih mudah dicerna publik.Ia menuturkan, sebelum gempa yang disusul tsunami Aceh 2004, hampir tidak ada media massa yang mengulas potensi gempa dan tsunami Aceh. Tsunami Aceh yang menelan lebih dari 200 ribu korban jiwa pun disebut silent tsunami, karena tak ada warning sebelumnya.“Kita, para jurnalis mungkin kurang diskusi tentang bencana geologi, apalagi tsunami. Waktu itu persepsi warga dan wartawan Indonesia sangat awam terhadap tsunami,” ujar Ahmad Arif, dalam acara A 5th Annual Symposium on Earthquake and Related Geohazard Research For Disaster Risk Reduction di ITB, Senin (19/10).Menurut Ketua Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Bandung, Adi Marsiela, dalam menyampaikan isu pengurangan dampak resiko bencana (mitigasi) wartawan sangat memerlukan narasumber dari lingkup ilmuwan atau akademisi. Ada kekhawatiran ilmuwan terhadap berita yang dibuat wartawan, padahal berita tersebut akan dibaca masyarakat secara luas.Kekhawatiran tersebut sebenarnya bisa diatasi jika ilmuwan atau akademisinya terbuka untuk sharing ilmu dengan wartawan. “Jurnalis perlu lebih banyak masukan termasuk dari para ilmuwan. Sharing tersebut penting bagi update pengetahuan jurnalis,” ujarnya.Geolog ITB, Irwan Meilano menambahkan, pihaknya menyambut baik ide membangun forum komunikasi antara jurnalis dan ilmuwan. Ia mengakui, peneliti juga menghadapi kendala bahasa dalam menyampaikan materi penelitian. “Bahasa kami terlalu kaku, perlu penyampaian lewat bahasa populer yang bisa diterima masyarakat luas,” katanya.Ia menambahkan, selama ini bahasa yang digunakan dalam melakukan riset serta publikasi ilmiah kepada masyarakat masih dianggap terlalu kaku. “Bahasa saya terlalu kaku, susah sekali menyampaikan riset dengan bahasa yang bisa dipahami. Jadi ide forum bersama sangat penting,” ujar Irwan.Mantan Kepala Pusat Vulkanologi Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), Surono, yang hadir dalam acara pun berbagi kisah bagaimana caranya menghadapi wartawan. Seorang ilmuwan atau peneliti bertanggung jawab berbagi ilmu yang dimilikinya kepada masyarakat. Maka seorang ilmuwan yang melayani wawancara wartawan artinya mau berbagi ilmu dengan masyarakat, sebab wartawan memang tugasnya menyebarkan informasi.Menurutnya, kunci untuk menghadapi wartawan atau masyarakat adalah komunikasi. Maka sewaktu menjabat Kepala PVMBG, ia selalu siap dihubungi wartawan. Untuk itu, ia mengaku harus melakukan persiapan materi sebelum bertemu wartawan.Selain itu, bahasa yang digunakan dalam penyampaian harus mudah dimengerti. "Orang akan memilih pakar yang bahasanya sederhana daripada pakar paling pintar tapi bahasanya sulit dimengerti" ujar pria yang akrab disapa Mbah Rono. Wartawan yang meliput bencana pun juga harus dibekali informasi dasar mengenai bencana alam. Misalnya jika ia mau bertanya status gunung api, gerakan tanah, gempa bumi, minimal sudah membaca informasi dasar tentang kebencanaan.

Rekomendasi