87,2 Persen Beragama Islam, Indonesia Berpotensi Besar Mendominasi Ekonomi Syariah
Merdeka.com - Wakil Presiden Ma'ruf Amin mengatakan, sebagai negara dengan mayoritas masyarakat muslim, sudah selayaknya ekonomi dan keuangan syariah menjadi penggerak ekonomi nasional. Apalagi Indonesia memiliki potensi yang besar dalam pengembangan ekonomi dan keuangan syariah.
"Dari sisi supply kita punya sumber daya untuk pengembangan ekonomi syariah. Sementara dari sisi demand kita adalah pasar potensial terhadap ekonomi syariah baik di sektor keuangan, produk dan makanan halal, fesyen muslim, dana sosial Islam, usaha atau bisnis syariah, dan sebagainya," kata Wapres.
Setuju dengan Wapres, Bambang Brodjonegoro, Presiden Komisaris Prudential Syariah menuturkan industri asuransi jiwa syariah dinilai juga memiliki potensi pertumbuhan di Tanah Air mengingat penduduk Indonesia yang beragama Islam mencapai 87 persen dari total populasi.
"Jumlah penduduk beragama Islam di Indonesia mencapai 87,2 persen dari total populasi pada 2021. Angka ini menandakan bahwa Indonesia memiliki potensi yang sangat besar untuk mengembangkan sektor ekonomi Syariah," ujarnya, Kamis (6/4). Seperti dilansir dari Antara.
Bambang menyampaikan, pihaknya telah mengambil langkah strategis untuk menangkap potensi ini dan berhasil menjadi perusahaan joint venture pertama yang melakukan spin-off di tahun 2022.
Sejak spin-off, lanjutnya, perusahaan membukukan total aset sebesar Rp6,7 triliun dan mencatatkan risk-based capital (RBC) Dana Tabarru sebesar 249 persen.
"Ini menandakan bahwa perusahaan memiliki kondisi keuangan yang sehat dengan angka RBC yang melebihi ketentuan minimal target yang ditetapkan oleh regulator," ujar mantan Menteri Keuangan itu dalam acara Milad 1 Prudential Syariah.
Namun, Omar S. Anwar selaku Presiden Direktur Prudential Syariah mengungkapkan ada tantangan tersendiri dalam mengembangkan asuransi jiwa Syariah. Yaitu rendahnya indeks literasi dan inklusi keuangan Syariah, yang baru mencapai 9,14 persen di 2022 untuk literasi dan 12,12 persen untuk inklusi.
Sementara indeks literasi dan inklusi keuangan umum masyarakat Indonesia mencapai 49,68 persen dan 85,10 persen di tahun yang sama.
"Tantangan ini mendorong kami untuk mengambil langkah strategis dengan meluncurkan Sharia Knowledge Centre (SKC) yang berfokus pada pilar informasi, literasi, inovasi, dan kolaborasi," katanya.
Melalui strategi kolaborasi, lanjutnya, telah berkolaborasi dengan Asosiasi Asuransi Syariah Indonesia (AASI) dalam memprakarsai Cetak Biru Asuransi Jiwa Syariah dan menjalin kemitraan strategis dengan Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU).
(mdk/ded)Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya