Menjelang akhir Juli ini, beberapa tempat di Indonesia akan memasuki puncak musim kemarau. Di Jawa Tengah ada dua kabupaten yang akan segera memasuki puncak musim kemarau, yaitu Kabupaten Purbalingga dan Banjarnegara
Menurut Kepala Stasiun Geofisika BMKG Banjarnegara, Setyoajie Prayoedhi, puncak musim kemarau juga diperkirakan akan berlangsung di tiga kabupaten lain yaitu Kebumen, Cilacap, dan Banyumas.
Terkait hal itu, Setyoajie mengimbau masyarakat untuk mewaspadai dampak yang mungkin akan ditimbulkan. Lantas apa saja dampak puncak musim kemarau tersebut? Berikut selengkapnya:
Advertisement
Setyoajie mengatakan, puncak dari musim kemarau ini akan berdampak pada krisis air bersih. Oleh karena itu ia mengimbau pada masyarakat agar bijak menggunakan air.
Selain berdampak pada krisis air bersih, penurunan intensitas air hujan pada puncak musim kemarau dapat meningkatkan potensi kebakaran hutan lahan. Hal ini pula yang diingatkan oleh Pakar Hidrologi dan Sumber Daya Air Universitas Jenderal Soedirman, Yanto, Ph.D. Dia mengingatkan akan pentingnya memperkuat mitigasi bencana kekeringan yang bisa ditimbulkan.
“Upaya-upaya mitigasi bencana kekeringan harus kembali diintensifkan guna mengantisipasi puncak musim kemarau,” kata Yanto dikutip dari ANTARA pada Selasa (27/7).
Advertisement
Menurut perkiraan Yanto, puncak musim kemarau saat ini diperkirakan lebih basah dari rata-rata normal. Walau begitu bentuk mitigasi tetap harus dilakukan guna menghindari kelangkaan air bersih. Dia menambahkan mitigasi itu perlu pula dibarengi dengan strategi perubahan iklim.
“Strategi perubahan iklim yang dapat dilakukan antara lain meningkatkan kapasitas tampungan air dalam bentuk waduk, bendungan, situ, embung, sumur resapan, biopori, maupun alat pemanen hujan,” kata Yanto.