Penghuni rusun banyak yang nunggak, Sekda DKI tak bisa tidur

Penghuni rumah susun di Jakarta diketahui menunggak pembayaran sewa. Data Dinas Perumahan Rakyat dan Permukiman DKI mencatat sejak Januari-Juni 2017 tunggakan mencapai Rp 32 miliar.

Syifa Hanifah
Oleh Syifa Hanifah - Reporter
Penghuni rusun banyak yang nunggak, Sekda DKI tak bisa tidur
Satpol PP operasi Rusun Tambora. ©2016 merdeka.com/imam buhori

Penghuni rumah susun di Jakarta diketahui menunggak pembayaran sewa. Data Dinas Perumahan Rakyat dan Permukiman DKI mencatat sejak Januari-Juni 2017 tunggakan mencapai Rp 32 miliar.Sekretaris Daerah (Sekda) DKI Jakarta Saefullah mengaku terus memutar otak untuk mencari solusi atas persoalan tersebut. Bahkan masalah ini membuat Saefullah menjadi susah tidur."Kemarin waktu rapim minggu lalu saya minta hitung. Semalam juga saya enggak bisa tidur mikirin yang nunggak, mikirin ini bagaimana solusinya yang Rp 32 M, mikirin itu," kata Saefullah diiringi canda di Jakarta, Selasa (8/8).Saefullah mengungkap alasan lain banyaknya penghuni rusun yang menunggak. Menurutnya hal itu terjadi karena banyak yang merasa kalau rusun tersebut bukan miliknya, sehingga tidak ada tanggung jawab untuk membayarnya."Ada kemungkinan mereka yang enggak mau bayar karena ngerasa bukan punya saya perhitungan gitu. Tapi kalau nanti jadi punya dia semangat," ungkapnya.Sebelumnya Kepala Bidang Pembinaan, Penertiban, dan Peran Serta Masyarakat Dinas Perumahan Rakyat dan Permukiman DKI Jakarta Meli Budiastuti menjelaskan rusun yang paling banyak menunggak yakni Rusun Marunda Jakarta Utara."Nah tentunya dengan jumlah unit yang paling besar, itu yang paling potensi untuk nunggak paling besar. Untuk saat ini, setelah kami lihat itu adalah di Marunda yang paling besar tunggakannya sekitar Rp 9 miliaran, yang paling terendah adalah di Sukapura hanya 1 penunggak, Rp 1,9 juta dari 1 penghuni," kata Meli, Jumat (4/8).

Rekomendasi