Wakil Gubernur DKI Jakarta, Ahmad Riza Patria memastikan masih menerapkan Pembelajaran Tatap Muka (PTM) 100 persen di wilayahnya. Meski kasus Covid-19 varian Omicron sudah bertransmisi, belum ada rencana menyetop PTM 100 persen.
"Sampai hari ini kita tidak mengurangi PTM karena DKI termasuk provinsi yang memenuhi syarat melaksanakan PTM 100 persen terbatas," kata Riza, Senin (10/1).
Riza menyadari, kasus Omicron di Indonesia terus bertambah. Namun, hingga kini PTM 100 persen terbatas tidak memicu klaster baru Covid-19.
"Belum ada satu kejadian yang signifikan. Sampai hari ini belum ada klaster di sekolah," ujar dia.
Politikus Partai Gerindra ini mengapresiasi masukan pelbagai pihak agar PTM tidak digelar 100 persen di tengah ancaman Omicron. Masukan tersebut juga datang dari Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI).
Namun Riza menegaskan, penyetopan PTM 100 persen tidak bisa diputuskan sepihak oleh pemerintah daerah. Harus dibahas terlebih dahulu bersama pemerintah pusat. Sebab, aturan PTM 100 persen dikeluarkan pemerintah pusat.
"Semuanya tidak bisa kami putuskan sendiri, kami putuskan bersama pemerintah pusat. Prinsipnya, pemerintah daerah akan memberikan perhatian semua," pungkasnya.
Advertisement
Kasus Covid-19 varian Omicron di Indonesia sebanyak 414 orang. Dari jumlah tersebut, hanya dua kasus membutuhkan perawatan dengan oksigen.
Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin mengatakan dua kasus Omicron yang membutuhkan oksigen ini masing-masing berusia 58 tahun dan 47 tahun. Keduanya memiliki penyakit bawaan atau komorbid.
"Dari 414 ini, yang masuk kategori (bergejala) sedang artinya membutuhkan perawatan dengan oksigen hanya dua orang," kata Budi dalam konferensi pers, Senin (10/1).
Dia menyebut, dari total kasus Omicron, sekitar 114 orang atau 26 persen sudah sembuh dan kembali ke rumah masing-masing. Dua di antara kasus sembuh merupakan pasien yang membutuhkan perawatan dengan oksigen.
"Jadi kesimpulannya, walaupun Omicron ini cepat transmisinya tapi relatif lebih ringan dari keparahannya," ucapnya.
Mantan Wakil Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) ini menjelaskan, dari 414 kasus Omicrin di Tanah Air, mayoritas berasal dari pelaku perjalanan luar negeri. Positivity rate Omicron dari pelaku perjalanan luar negeri mencapai 13 persen.
Jauh lebih tinggi dari positivity rate Omicron hasil transmisi lokal yang mencatat angka 0,2 persen.
"Jadi positivity rate kedatangan dari luar negeri, 65 kali lebih tinggi dibandingkan positivity rate transmisi lokal. Ini memperkuat hipotesa kami bahwa sebagian besar dari kasus positif yang terjadi saat ini disebabkan oleh kedatangan luar negeri," jelasnya.
Menurut Budi, negara asal pelaku perjalanan luar negeri yang menyumbang kasus Omicron tertinggi di Indonesia bergeser. Sebelumnya Turki, kini menjadi Arab Saudi.
"Negara-negara yang paling tinggi sekarang bergeser. Pertama adalah Arab Saudi, kedua Turki, ketiga Amerika Serikat, dan keempat adalah Uni Emirat Arab," tandasnya.