Better experience in portrait mode.
Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan

Jakarta kewalahan jika sampah tak bisa dibuang ke Bantargebang

Jakarta kewalahan jika sampah tak bisa dibuang ke Bantargebang sampah Jakarta. Merdeka.com/Arie Basuki

Merdeka.com - Persoalan pengelolaan sampah ibu kota masih jadi pekerjaan rumah (PR) besar yang harus diselesaikan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta. Kepala Dinas Kebersihan DKI Jakarta Isnawa Adji memutar otak. Jika tidak ditangani dengan baik, Jakarta bisa dikepung sampah.

Dia berkaca pada kejadian kisruh pengelolaan sampah Jakarta beberapa waktu lalu yang sempat ditolak dibuang ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Bantargebang. "Saat truk sampah milik Pemprov DKI Jakarta dihadang warga selama tiga hari berturut-turut di daerah Cileungsi, ada sekitar 5.000 hingga 7.000 ton sampah per hari yang tidak terangkut. Saat itu Jakarta sangat kewalahan dan butuh waktu satu minggu untuk menormalkannya kembali," kata Isnawa saat menghadiri diskusi Panel dan Media Gathering 'Teknologi Sampah Jepang Siap Menyulap Indonesia' di Art Hotel Thamrin Jalan Sunda No 3 Menteng Jakarta, Rabu (6/1).

Dari kondisi itu, seharusnya DKI Jakarta memiliki Tempat Pengolahan Sampah Terpadu Dalam Kota (Intermediate Treatment Facilities/ITF) yang sudah seharusnya dibangun maksimal empat sampai lima tahun ke depan.

"Sudah harus dibangun, kan rencananya ada di empat lokasi, yaitu di Duri Kosambi, Sunter, Cakung-Cilincing, dan Marunda. Misalnya, di Sunter nantinya bisa mengolah sampah 1.000 ton per hari," katanya.

Selain itu, pemerintah juga berharap seluruh pejabat lingkungan setingkat RT dan RW ikut berperan dalan pengelolaan sampah. "Saya harapkan kepada warga, RT, RW sampai kelurahan untuk mengelola bank sampah dengan baik karena sangat membantu kami dalam mengurangi volume sampah ke TPST Bantar Gerbang," ucapnya.

(mdk/noe)
Geser ke atas Berita Selanjutnya

Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya

Buka FYP