Dodol Betawi adalah salah satu makanan tradisional asli dari suku Betawi, DKI Jakarta. Makanan yang terdiri dari bahan baku berupa beras ketan, gula merah dan santan kelapa ini, harus bersaing dengan berbagai macam kue-kue modern lainnya, untuk tetap eksis sebagai bagian dari aspek budaya yang harus dijaga.Adalah Pak Satibi seorang warga keturunan asli Betawi, yang masih meneruskan usaha pembuatan dodol Betawi ini di rumahnya kawasan Cilodong, Depok, Jawa Barat. Pria berusia 50 tahun ini mengaku, dirinya sudah meneruskan usaha keluarga ini sejak belasan tahun silam, sebagai sumber mata pencaharian bagi keluarganya."Kalau usaha keluarga dari dulu, tahun 70-an kalau nggak salah. Tapi saya baru mulai meneruskan usaha bikin dodol Betawi ini baru sejak tahun 90-an," ujar Satibi saat ditemui di lapaknya berjualan, di acara Lebaran Betawi, Lapangan Banteng, Jakarta Pusat, Sabtu (13/8).Satibi menjelaskan, dodol Betawi produksinya ini masih kerap mendapatkan pesanan dalam jumlah besar, terutama pada momen-momen perayaan hari tertentu setiap tahunnya."Biasanya langganan-langganan saya itu, yang orang Betawi asli khususnya, pasti pesen dodol Betawi ke saya kalau ada acara-acara perayaan seperti kawinan, sunatan, lebaran, Syawal besar, atau bahkan kalau ada acara maulidan," ujarnya.Di lapaknya berdagang, Satibi menjual dodol Betawi dengan tiga varian rasa, antara lain rasa original, rasa ketan hitam dan rasa durian. Selain itu, dirinya juga menjual bir pletok, sebagai minuman khas suku asli Betawi yang juga diproduksi sendiri di industri rumahannya tersebut."Dodol ada yang rasa asli, rasa durian dan rasa ketan item. Harganya kita jual juga bervariasi, dari yang Rp 25 ribu dua bungkus untuk kemasan ukuran kecil, sampai yang harga Rp 70 ribu untuk ukuran sebesar keranjang ini," kata Satibi."Kalau bir pletoknya kita jual seharga Rp 35 ribu untuk yang ukuran 60 mililiter, dan Rp 12,5 ribu untuk yang ukuran kecil 240 mililiter," ujarnya menambahkan.Ketika ditanya di mana saja ia biasa menggelar dagangannya, Satibi mengaku telah memiliki beberapa lapak berdagang, di beberapa tempat seperti di wilayah Penggilingan (Cakung) dan Kandang Sapi Rorotan (Jakarta Utara), Masjid Kwitang (Jakarta Pusat), dan di wilayah Kampung Melayu (Jakarta Timur).Mengenai penjualan dodol Betawi itu sendiri, Satibi mengaku tidak khawatir sedikitpun pada banyaknya kue-kue modern, yang disebut-sebut menjadi saingan bagi dodol Betawinya itu.Sebab, sebagai bagian dari aspek budaya asli Betawi, lanjut Satibi, dirinya memastikan jika dodol Betawinya ini akan selalu memiliki peminat, karena merupakan makanan khas Betawi yang selalu diburu di perayaan-perayaan tertentu oleh masyarakat Betawi itu sendiri."Jadi dodol ini kan makanan yang nggak bisa dipisahkan dari masyarakat Betawi itu sendiri. Dalam perayaan apapun, mereka selalu menyuguhkan dodol. Dan alhamdulillah, sampai sekarang dodol Betawi ini masih eksis karena kalau orang Betawi kawinan, lebaran, maulidan, mereka pasti pesen dodol," pungkasnya.
Eksistensi dodol Betawi di tengah kepungan kue-kue modern
Pemprov DKI menggelar Lebaran Betawi di Lapangan Banteng.
Rekomendasi