Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok menganggap banjir di kawasan Kemang terjadi karena belum adanya pompa yang terpasang di bantaran Kali Krukut. Ditambah, Kali Krukut saat ini menyempit karena ada banyak bangunan didirikan di sekitar kali."Karena dia lagi tinggi, jebol, ini masuk, masuk, ini kan enggak ada pompa. Coba kalau dia enggak jebol ini tembok, normal semua kok, air pasti turun ke bawah," kata Ahok di Balai Kota, Jakarta, Senin (29/8).Menurut Ahok, sebetulnya Pemprov DKI telah memiliki pompa untuk mengatasi banjir di kawasan itu. Namun, jumlah pompa tidak cukup untuk dioperasikan di seluruh kawasan Kemang.Ditambah, kata Ahok, penyedotan air bisa memakan waktu yang lama karena debit air sangat banyak. Kemudian air hasil sedotan tidak bisa langsung dibuang ke kali."Nah itu mompanya lama tuh, bisa berminggu-minggu. Karena banyak daerah lembah yang belum terpasang (pompa)," ujarnya.Kondisi ini membuat warga yang terdampak banjir meminta untuk dipasangkan pompa. Tetapi, Ahok tidak bisa memenuhi permintaan itu karena biaya pemasangan pompa mencapai miliaran rupiah dan tidak ada jaminan kawasan itu bebas dari banjir. "Ada Kemang Jaya, ada juga di Ulujami, ada cuma 4-5 rumah dia di lembah tiap kali hujan, banjir, dia minta pasang pompa. Pasang pompa tiap tahun beroperasi miliaran. Pantas enggak?," jelasnya.Ahok memilih membeli lahan pemilik bangunan di pinggiran Kali Krukut ketimbang memasang pompa. Dengan cara itu, dia berencana membongkar bangunan yang membuat sempit kali dan melakukan normalisasi. Sayangnya, tawaran itu pun ditolak."Untuk 4-5 orang yang dulu pernah melanggar beli tanah di lembah. Saya tawarkan, sudah deh kamu nih memang sudah tempat tampungan air, kamu jual ke kita aja deh daripada kita invest miliaran buat pompa, biaya operasional miliaran buat pompa. Enggak mau juga," tutupnya.
Ahok ngeles banjir Kemang karena tak ada pompa di Kali Krukut
Menurut Ahok, jumlah pompa tidak cukup untuk dioperasikan di seluruh kawasan Kemang
Advertisement