Garut selama ini identik dengan camilan khas bernama dodol, namun siapa sangka dahulu kota berjuluk Swiss van Java tersebut juga dikenal sebagai penghasil jeruk yang kesohor. Saking ikoniknya, Kabupaten Garut sampai menjadikan Jeruk sebagai lambang dari Kabupaten Garut hingga saat ini.
Belakangan sekelompok petani milenial di Kecamatan Cikajang mulai menggiatkan kembali kejayaan Jeruk Garut, dengan mendirikan Eptilu. Para petani tersebut berupaya mengangkat kejayaan buah yang sempat terkubur akibat letusan Gunung Galunggung di 1982 lalu.
Sebagaimana dilansir dari Liputan6 pada Kamis (25/02), Eptilu turut saat ini mulai mengangkat kembali Jeruk Garut agar kembali berjaya. Seperti apa geliat Eptilu dalam mengangkat kembali Jeruk Garut? Simak informasi lengkapnya berikut.
Advertisement
Salah satu cara mengangkat kembali kejayaan Jeruk Garut adalah dengan membuka area wisata jeruk untuk para warga Garut, dan dari luar daerah. Selain itu Eptilu juga mengedukasi masyarakat lewat kegiatan budidaya yang dilakukan.
Pemilik wisata petik jeruk Eptilu Cikajang, Rizal Fahreza mengatakan, sejak pertama kali dibuka untuk umum pada 2016 lalu, keberadaan Eptilu langsung menjadi daya tarik bagi para masyarakat.
“Hingga kini kami masih konsisten untuk mengembangkan jeruk Garut,” ujar Rizal, Senin (22/2/2021).
Eptilu sendiri merupakan ejaan bahasa Sunda dari F tiga, yakni Fresh From Farm. Kawasan tersebut merupakan kawasan agrowisata sekaligus tempat untuk edukasi dalam mempelajari budidaya jeruk.
Advertisement
Dalam praktiknya, para pengelola Eptilu turut mengajak Dinas Pertanian Kabupaten Garut untuk memetakan area wilayah luasan lahan yang akan dikembangkan oleh para petani jeruk.
Tak sampai di situ, di masa pandemi Covid-19 ini Eptilu turut melakukan penambahan fasilitas untuk pengunjung. Seperti penanaman bunga hingga tanaman lain bersama pendududk sekitar. Termasuk menghadirkan ruang edukasi pertanian yang didukung Kementerian Pertanian.
Untuk diketahui, Pemkab Garut sendiri sudah mulai mengembangkan komoditas jeruk di beberapa kecamatan. Saat ini tercatat telah terdapat sekitar 400 ribu pohon jeruk atau sekitar 40 persen dari area seluas 1.000 hektare yang kembali ditanam oleh warga.
Sebut saja Kecamatan Samarang, Pasirwangi, Bayongbong, Cisurupan, Cikajang, Cilawu, Karangpawitan, Pameungpeuk, Cikelet, Cisompet, dan Cibalong mulai terbiasa menanam jeruk Garut.
"Kami juga mulai merencanakan program pengembangan jeruk, termasuk perluasan area jeruk, Sekarang masih di PCL atau penentuan calon petani termasuk calon lahan” jelasnya.
Advertisement
Di sini para pengunjung juga bisa turut serta mempelajari proses pembibitan hingga masa panen yang akan dilatih oleh pengelola perkebunan yang ahli. Selain itu bagi yang ingin membawa pulang jeruk Garut, pengunjung bisa memetik langsung buahnya dari pohon.
Bagi para pengunjung juga tak perlu khawatir, di Eptilu juga tersedia berbagai sajian kuliner yang bisa memanjakan pelancong. Berbagai menu seperti santapan nasi liwet kentang khas sunda, plus ayam kampung dan pelengkapnya mulai tahu, mendoang, asin, sambel dan Lalaban komplit tersedia di sana.
“Bagi kalangan ibu-ibu yang kerap mengeluhkan soal toilet, kami telah menyediakan fasilitas itu secara lengkap sejak di area parkir kendaraan” kata dia.
Tak ayal dalam kurun waktu lima tahun terakhir, pamor Eptilu semakin dikenal publik sebagai tujuan wisata pertanian yang menyenangkan.
"Pengunjung bisa petik jeruk langsung dari pohonnya untuk dibawa pulang, Tiketnya Rp55 ribu lengkap, Rp35 ribunya buat makan dan Rp20 ribunya buat jeruk,” papar Rizal.