Lalui Seleksi Ketat, Wagub Uu Ruzhanul Ulum Berharap Ini dari Petani Milenial Jabar

Wakil Gubernur Jawa Barat Uu Ruzhanul Ulum mengatakan, gerakan Petani Milenial Jabar disiapkan untuk bisa meregenerasi petani di tengah masa krisis akibat berkurangnya jumlah petani berusia muda

Nurul Diva Kautsar
Oleh Nurul Diva Kautsar - Reporter
Lalui Seleksi Ketat, Wagub Uu Ruzhanul Ulum Berharap Ini dari Petani Milenial Jabar
Petani Milenial Jabar. ©2021 liputan6/Merdeka.com

Gerakan petani milenial di Jawa Barat terus dimaksimalkan usai melalui sejumlah seleksi yang ketat. Untuk itu, pihak pemprov mendorong agar para pegiatnya bisa memajukan komoditas tani di tengah banyaknya kebutuhan khususnya di Jabar.

Menanggapi itu, Wakil Gubernur Jawa Barat Uu Ruzhanul Ulum mengatakan, gerakan Petani Milenial Jabar disiapkan untuk bisa meregenerasi petani di tengah masa krisis akibat berkurangnya jumlah petani usia muda.

Uu juga turut menunggu gebrakan inovasi yang akan ditonjolkan saat dimulai proses pengembangannya di lapangan.

"Pemerintah Daerah Provinsi Jawa Barat sedang mengembangkan petani milenial untuk menjawab permasalahan di bidang pertanian, khususnya regenerasi petani," ujarnya, Selasa, 31 Agustus 2021 lalu. Mengutip Liputan6

Mampu Mengatasi Rendahnya Kualitas Pertanian di Jabar

Para petani muda sendiri diharapkan mampu menyiapkan solusi di tengah permasalahan rendahnya produktivitas dan kualitas dari pertanian yang ada di Jabar.

Menurut Uu, krisis petani amat nyata, dengan para pelakunya yang berusia rata-rata lebih dari 44 tahun.

Hal itu mengacu pada hasil survei pertanian antar sensus (sutas) 2018 yang dilakukan Badan Pusat Statistik, di mana jumlah petani di Jabar yang berusia 25-44 tahun hanya 945.574 orang atau 29 persen dari total keseluruhan mencapai 3.250.825 orang.

"Pak Gubernur (Ridwan Kamil) sekarang menjawab dengan Petani Milenial, termasuk juga dengan program Santani (Santri Tani)," ujarnya.

Kuasai Teknologi dan Kolaborasi Pertanian

Sebagai negara agraris, Indonesia khususnya Jawa Barat memiliki konsep pertanian yang terus bergerak maju. Dan di masa sekarang pertanian tak lagi mengandalkan kerja dan turun ke sawah melainkan harus mampu mengendalikan teknologi pengiring dengan kemampuan yang dimiliki.

Selain penguasaan teknologi, Uu turut menekankan agar para petani milenial mampu berkolaborasi dengan berbagai pihak, termasuk pemerintah, perbankan, hingga offtaker sebagai penunjang. Menurut dia, pertanian di era sekarang tak bisa berjalan sendiri

"Sekarang tidak ada kata Superman, tapi perlu kekuatan yang lahir berdasarkan kolaborasi," kata dia.

Fokus di Kopi hingga Gula Aren

Untuk diketahui, petani milenial Jabar sendiri akan difokuskan untuk mengembangkan komoditas perkebunan seperti kopi, gula aren, vanili, pembenihan tanaman perkebunan, dan limbah kelapa.

Dari situ, sudah terseleksi 25 pemuda yang dibebaskan untuk memilih pengembangan sesuai pilihan jenis usahanya.

Rinciannya, sebanyak 15 petani memilih usaha pengolahan kopi, empat orang usaha pengolahan gula aren. Kemudian dua orang memilih komoditas vanili, dua orang pembenihan tanaman perkebunan. Sementara dua petani milenial lainnya memilih rintisan usaha pengolahan limbah kelapa.

"Para petani milenial ini sudah melaksanakan bimteknya, dari bimtek teknis juga dengan pengolahan," kata Kepala Dinas Perkebunan (Disbun) Jabar Hendy Jatnika, dihubungi terpisah.

Melihat Peluang Pasar

Hendy mengungkapkan, dari komoditas yang dipilih tersebut sudah mengacu kepada peluang pasar, yang artinya komoditas dari mulai Kopi, Vanili, Gula Aren hingga limbah kelapa memiliki peluang pasar yang baik.

Salah satunya komoditas limbah kelapa yang mulai dari serabut hingga arangnya memiliki pangsa ekspor yang tinggi, sehingga perlu dikembangkan dengan baik.

"Ini peluang pasarnya belum bisa dipenuhi, baru 10 persen, tentu 90 persen belum bisa dipenuhi," ujarnya.

Optimalisasi Potensi Daerah

Kemudian, untuk mendukung proses usaha para petani milenial, sejumlah bank pemerintah seperti BJB dan BNI siap memberikan bantuan KUR (kredit usaha rakyat) secara bertahap. Saat ini program tersebut sudah terealisasi kepada lima orang.

"Mudah-mudahan secara bertahap akan bertambah lagi," ujarnya.

Sementara itu, Asisten II Bagian Perekonomian dan Pembangunan Setda Kabupaten Garut Toni Tisna Somantri menambahkan, program petani milenial yang turut dikembangkan di Garut serta wilayah Jabar lainnya dinilai tepat.

Hal ini merupakan membuka jalan untuk mengoptimalkan potensi pertanian di daerah masing masing.

"Tidak hanya kopi, ada juga Jeruk Garut, dan produk pertanian lainnya yang luar biasa potensinya," kata dia.

Rekomendasi