Better experience in portrait mode.
Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan

Kotak Pandora Turki vs Kurdi, Militan ISIS Asal Indonesia Kabur dari Penjara Suriah

Kotak Pandora Turki vs Kurdi, Militan ISIS Asal Indonesia Kabur dari Penjara Suriah Turki Vs Kurdi. ©2019 AFP PHOTO/NAZEER AL-KHATIB

Merdeka.com - Ribuan kilometer dari Tanah Air, ratusan militan kelompok Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS) yang direkrut dari Indonesia dan Malaysia mendekam di penjara Suriah sejak kekhalifahan ISIS dinyatakan tumbang awal tahun ini.

Sekitar 50 militan Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS) asal Indonesia dan keluarganya yang ditahan di sebelah utara Suriah diyakini kabur ketika Turki melancarkan invasi ke wilayah itu untuk mengusir milisi Kurdi pekan lalu.

Turki mulai menggelar operasi militer di utara Suriah setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump memutuskan menarik mundur pasukan AS di kawasan itu.

Dari 12 ribu militan ISIS yang ditahan di penjara Suriah, sekitar 2.000 di antaranya adalah warga asing, termasuk dari Indonesia dan Malaysia.

"Menurut intelijen kami, sekitar 50 militan asal Indonesia dan keluarganya yang ditahan di Suriah melarikan diri. Itu kabar terakhir yang kami terima," kata sumber pejabat kontraterorisme yang menolak diketahui identitasnya kepada South China Morning Post.

Menurut sumber itu, ada 34 jihadis asal Indonesia dan sekitar 700 keluarga ISIS di Suriah.

"Kami sudah memperketat pengawasan di bandara, pelabuhan, dan perbatasan di daratan," kata dia.

800 Keluarga Militan ISIS Kabur

militan isis kabur rev1Rekonstruksi prajurit tni pembunuh kacab bank BUMN. ©2025 Merdeka.com

Sekitar 12 ribu tahanan ISIS di Suriah hanya dijaga oleh sekitar 400 tentara Kurdi yang juga bertugas mengawasi sejumlah kamp pengungsian yang dihuni sekitar 70 ribu keluarga ISIS.

Dikutip dari laman South China Morning Post, Rabu (16/10), ketika Turki melancarkan serangan ke utara Suriah, para milis Kurdi yang berjaga menghadapi situasi sulit. Minggu lalu otoritas Kurdi mengatakan hampir 800 keluarga militan ISIS dari negara asing melarikan diri dari sebuah kamp di dekat wilayah serangan Turki.

Ahmad Yayla, asisten profesor hukum dari Universitas DeSales di Amerika Serikat mengatakan jika 12.000 tahanan ISIS itu memberontak maka mereka akan dengan mudah mengalahkan para penjaga Kurdi dan melarikan diri.

Sebelumnya sudah ada beberapa kali upaya memberontak dan melarikan diri, kata Yayla.

Ahli kontraterorisme dan akademisi dari Universitas Teknologi Nanyang, Noor Huda Ismail, mengatakan militan ISIS Indonesia dikenal gigih dan masih setia dengan ISIS.

Dalam sebuah video mereka sempat terlihat membakar paspor Indonesia di Suriah dan menyatakan janji setia dengan ISIS.

"Tanpa dokumen lengkap, mereka mungkin sulit untuk kembali ke negara asal. Hampir pasti mereka akan menyebar, terutama ke beberapa negara sekitar seperti di perbatasan Turki, Irak atau Iran," kata Huda.

ISIS Mencari Cara buat Paspor Palsu

cara buat paspor palsu rev1Rekonstruksi prajurit tni pembunuh kacab bank BUMN. ©2025 Merdeka.com

Huda mengatakan, militan ISIS yang kembali kemungkinan akan menjalin kontak dengan jaringan pro-ISIS di Indonesia, Jamaah Ansharut Daulah (JAD) jika mereka berhasil kembali ke Tanah Air.

"Jika mereka kembali, maka itu akan mengaktifkan lagi sel-sel ISIS yang selama ini tidur," kata dia.

Yayla menuturkan, ISIS kini tengah mencari cara mendapat paspor palsu bagi militan asing.

"Jika mereka bisa memalsukan paspor maka mereka ingin mengirimkan kembali militan yang sudah berpengalaman kembali ke asalnya supaya mereka bisa memimpin organisasi di negara asalnya," ujar Yayla.

Seiring pertempuran yang terus berlangsung, Turki berjanji akan mengelola semua pusat penahanan di lokasi yang mereka kuasai dan bekerja sama dengan negara lain untuk merehabilitasi anggota ISIS.

"Kami siap bekerja sama dengan negara-negara asal dan organisasi internasional untuk rehabilitasi keluarga anggota militan asing," kata Presiden Recep Tayyip Erdogan dalam tulisannya di harian the Wall Strett Journal baru-baru ini.

Namun menurut Yayla yang merupakan mantan pejabat senior di departemen kontrateroisme di kepolisian nasional Turki, negara itu bersikap lunak terhadap ISIS.

"Di Turki ada sekitar 1.000 tahanan ISIS dan sebagian besar mereka sudah dibebaskan dalam waktu singkat," kata Yayla.

"Ketika saya menjabat kepala kontraterosime di Sanliurfa (kota di Turki berbatasan dengan Suriah), saya menerima perintah dari Ankara untuk tidak menghalangi aliran kedatangan militan asing yang ingin masuk ke Suriah dan bergabung dengan Barisan Al-Nusra.

Barisan Al-Nusra dikenal sebagai cabang Al Qaidah di Suriah dan dianggap kelompok militan terbesar setelah ISIS.

(mdk/pan)
Geser ke atas Berita Selanjutnya

Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya

Buka FYP