Presiden Afghanistan, Ashraf Ghani, untuk pertama kalinya muncul setelah pemerintahan jatuh ke tangan Taliban. Berbicara dari tempat pelariannya di Uni Emirat Arab (UEA), Ghani mengatakan dia melarikan diri dari Kabul untuk mencegah pertumparah darah dan membantah laporan dia membawa uang negara dalam jumlah besar saat dia meninggalkan istana presiden.
Ghani dikecam sejumlah mantan menterinya karena meninggalkan negara tiba-tiba ketika pasukan Taliban memasuki Kabul pada Minggu.
“Jika saya tetap tinggal, saya akan menyaksikan pertumpahan darah di Kabul,” jelas Ghani dalam sebuah video siaran langsung di Facebook pada Rabu, pernyataan publik pertamanya sejak dia dikonfirmasi berada di UEA, dikutip dari Al Jazeera, Kamis (19/8).
Ghani menambahkan, dia meninggalkan sejumlah saran untuk para pejabat pemerintah saat meninggalkan Kabul.
“Kabul tidak boleh menjadi Yaman atau Suriah lain karena perebutan kekuasaan jadi saya terpaksa pergi,” ujarnya.
Ghani juga membantah rumor dia melarikan dari Afghanistan membawa uang jutaan dolar.
“Saya pergi hanya dengan rompi dan beberapa baju. Pembunuhan karakter terhadap saya telah berlangsung, mengatakan saya telah mengambil uang,” kata Ghani dalam video tersebut.
“Tuduhan itu adalah kebohongan tidak berdasar. Kalian bahkan bisa menanyakan pejabat bea cukai – semuanya tak berdasar.”
Keberadaan Ghani tidak diketahui sampai Rabu, di mana sebelumnya muncul spekulasi dia melarikan diri ke Tajikistan, Uzbekistan, atau Oman.
Sebelumnya pada Rabu, UEA mengonfirmasi dalam sebuah pernyataan kementerian, negara Teluk itu menerima Ghani dan keluarganya atas dasar kemanusiaan.
Duta besar Afghanistan untuk Tajikistan, Mohammad Zahir Aghbar menuding Ghani mencuri dana negara sebesar USD 169 juta dan menyerukan Interpol menangkapnya.
Aghbar mengatakan dalam konferensi pers pada Rabu, Ghani “mencuri USD 169 juta dari pundi-pundi negara” dan menyebut pelarian dirinya merupakan sebuah pengkhiatanan terhadap negara dan bangsa.
Ghani juga menyampaikan dalam siaran langsung itu, sedang berunding untuk kembali ke Afghanistan setelah mencari tempat perlindungan di UEA.
“Saya sedang berkonsultasi untuk kepulangan saya ke Afghanistan sehingga saya bisa terus memperjuangkan keadilan, nilai-nilai Islam dan nasional yang sebenarnya,” ujarnya.
UEA adalah satu dari tiga negara, termasuk Arab Saudi dan Pakistan, yang mengakui rezim Taliban sebelumnya, yang menguasai Afghanistan dari 1996 sampai 2001.