Ini bukan film 3 hari untuk selamanya, tapi perjalanan dari tanggal 28 Oktober hingga 1 November adalah tugas yang sangat berarti bagi Pramirvan Datu Aprillatu. Reporter liputan investigasi untuk rubrik Khas, merdeka.com. Bersama Arbi Sumandoyo pada waktu itu, keduanya menjalankan tugas jurnalistik di kawasan Nusa Kambangan, Cilacap, Jawa Tengah.
Mereka berdua di bawah koordinasi redaktur Khas Faisal Asegaf, ketika mendapat tugas ke pulau tempat penjara nara pidana Nusa Kambangan bahagia bukan kepalang. “Kapanlagi liputan menarik kalau tidak saat ini,” kata Pram — panggilan lelaki kelahiran 23 April pada 27 tahun ini.
“Idenya ke sana adalah untuk meliput kapal yang kencing BBM di tengah laut,” kata Pram. Semula, dia mengetahui info tersebut ketika meliput untuk wilayah Jakarta Utara. Di tengah laut juga banyak BBM kencing tengah laut. Ini adalah praktik ilegal untuk bisnis BBM dengan margin besar, kemudian dijual kembali ke masyarakat dan sebagian industri.
Sudah lama Pram penasaran untuk mengungkap itu. Tapi, berkali-kali mencari info dan akan meliput untuk di lepas pantai Jakut, tidak mudah. Nah, di sela-sela tanya-tanya tersebut, ada yang bilang modus tersebut juga terjadi di Samudera Hindia, di lepas pantai Cilacap. Lantas, diusulkan ke rapat redaksi, dan akhirnya Pram pun berangkat bersama Arbi.
Dengan naik kereta Sawunggaling, berdua pun tiba di Cilacap. Sasaran sudah dituju, dan mencari kontak-kontak. Ternyata dapat info bahwa untuk bisa mengetahui sampai ke tengah laut bukan perkara mudah, karena ada pengusaha yang memiliki banyak anak buah kaki tangan yang setiap saat bisa mengancam siapapun yang mengganggu bisnis BBM ilegal tersebut. Dan mereka pun menjalin kontak dengan orang-orang Ikatan Pemuda Nusa Kambangan (IPANA) di Cilacap.
Rupanya, semakin dekat dengan kelompok masyarakat setempat, banyak sekali informasi yang didapat. Selain soal modus pengambilan BBM dari tengah laut tanpa melalui jalur resmi, masih ada info-info menarik. Antara lain, tentang eksplorasi besar-besaran gunung kapur di Pulau Nusakambangan oleh pabrik semen Holcim sejak bernama semen Nusantara. Ternyata ada kegiatan ekonomis besar-besaran di pulau yang selama ini diyakini hanya untuk LP seperti halnya Alcatraz.
Kemudian, cerita hewan pemakan mayat di sana, sehingga tidak ada warga yang berani menunda-nunda apalagi menyimpan mayar di rumah. Berita lain adalah tentang napi dan seks. Ada modus lawas yang berlangsung terus menerus yang melibatkan para penghuni LP Nusa Kambangan. Mereka sering mengurus surat sakit, kemudian dirawat di klinik. Diduga bukan sekadar sakit, tapi alibi untuk menyalurkan hasrat birahi. Banyak pihak diduga terlibat di sini: orang kesehatan, polisi, dan sipir. Info lain adalah bahwa di Nusa Kambangan — di luar LP — juga ada tempat latihan ISIS. Sayang hari itu beberapa hari, sedang tidak ada latihan.
Dalam melakukan liputan, semestinya bisa koordinasi dengan lembaga-lembaga resmi. Namun, menurut anak ketiga dari 4 bersaudara itu, info yang didapat akan standar. Maka, mereka berdua melakukan dengan cara investigatif. Untuk itu, mereka selalu kucing-kucingan dengan aparat dan kaki tangan para pengusaha minyak ilegal.
Beberapa laporannya, sudah dimuat sejak pekan lalu. Masih ada yang akan disampaikan. Semua yang dilakukan itu, dengan berbagai risiko yang mungkin dihadapi, tak lain untuk memberikan informasi yang sebenarnya, sesuai standar liputan rekan-rekan di kanal Khas. Nusa Kambangan memang bukan yang pertama liputan yang dilakukan Pram untuk kawasan bahaya. Namun diakuinya, di pulau itu ada banyak cerita menarik. Suatu hari, dia akan menggali lebih jauh di kawasan Cilacap tersebut. “Masih banyak misteri, dan cerita besar di sana,” kata Pram yang pulang dengan selamat.***