Likers fanatis capres bila kecewa langsung un-Like

Hanya Likers yang pintar dan cerdas saja tidak mudah terombang-ambing dan tetap setia membaca media kesayangan ini.

Rita
Oleh Rita - Reporter
Likers fanatis capres bila kecewa langsung un-Like
Workstation. ©2014 Merdeka.com

Siapa calon presiden yang paling berpeluang menang? Maaf, kita bukan peramal, bukan pula mau mendahului kuasa Tuhan, maka tidak berani janji untuk menjawab pertanyaan di atas.Namun, pertarungan antara Jokowi dan Prabowo , sementara ini sebenarnya bisa dilihat dari para pendukung fanatik yang juga kebetulan pembaca merdeka.com. Gampang, kalau ada berita tentang Jokowi positif, maka pendukungnya akan memuji habis-habisan. Sebaliknya penyerangnya, kemungkinan yang pro Prabowo akan menyerang habis-habisan. Begitu sebaliknya.Semua, karena dianggap itu berita menarik, maka untuk bisa memberikan informasi yang lebih massive, maka Bambang R yang menjadi pengawal social media di merdeka.com melakukan broadcast melalui fan page merdeka di FB, maupun melalui twitter. "Rupanya apa yang kita lakukan bisa jadi bumerang," kata Bambang. Kenapa? Ternyata saat disebar di media sosial langsung, maka bila itu informasinya tentang Jokowi yang sedang bagus, maka pendukung Prabowo atau kita sebut sebut Likers (orang-orang yang sudah me-like) merdeka.com, akan cabut. Mereka tidak rela rivalnya sukses. Apalagi jagoannya kalah pamor.Begitu juga sebaliknya, bila Prabowo sedang di atas angin, dan oleh merdeka.com banyak dimuat, maka pendukung Jokowi menilai kita menjadi bagian Prabowo . Atau menjadi bagian Jokowi . Efeknya, para likers masing-masing pergi meninggalkan konten yang sangat bermanfaat ini.Untuk menghindari hal itu, maka Bambang bersama teman-temannya, membuat strategi lain. Berita yang menunjukkan keduanya, atau tidak face to face pamer prestasi, itulah yang disampaikan melalui broadcast di sosial media. Sebab, kalau hanya tentang prestasi masing-masing, maka lawan masing-masing akan melakukan tindakan un-Like.Melihat situasi itu, maka Bambang selain dengan hati-hati memasarkan konten merdeka.com ke ranah media sosial, dia juga harus tahu benar situasi politik. "Dari sini kelihatan kalau panas politik," katanya singkat. Tak heran, bila dalam beberapa hari terakhir, konten yang dibroadcast di social media tidak banyak tentang para capres. Siapapun tentu tidak mudah menghadapi para komunitas sekaligus pendukung fanatik. Baik fanatik aktif atau fanatik pasif. Pasif itu fanatik tapi tidak progresif. Sedang fanatik aktif adalah yang melakukan kegiatan menjurus kampanye baik terang-terangan atau terselubung, menjual capres-wapresnya.Namun, sekali lagi, dalam kesempatan ini kembali disampaikan, bahwa kita tetap tidak menjadi bagian capres manapun. Maka kami pun membuat iklan di media kami, bahwa kami tidak terpengaruh oleh iklan, hujan, kami tetap independen. Terus terang, kami tidak memihak ke Jokowi , ke Prabowo , atau juga Ical, bahkan Tukul. Loh kok Tukul muncul, emangnya dia nyapres? Tentu tidak. Tapi, bahkan kalaupun kita suka sama tayangan Tukul, kita tetap tidak memihak. Tidak mudah jadi independen, selalu dituduh. Kami lebih memilih menjadi tertuduh, daripada sudah tersangka dan terbukti. Bila mengaku smart, maka tidak mudah goyah pada satu pilihan sikap. Let’s be smart. Hanya Likers yang pintar dan cerdas saja tidak mudah terombang-ambing dan tetap setia membaca media kesayangan ini.

Halaman
Rekomendasi