Mardani, revolusioner penggerak Bulan Tan Malaka

Dikira buku-buku yang sebagian banyak tentang komunisme itu adalah kertas bekas, oleh ibunya dijual ke tukang loak.

Rita
Oleh Rita - Reporter
Mardani, revolusioner penggerak Bulan Tan Malaka
Harry A Poeze diskusi bersama Dani dan Ramadhian. ©2014 merdeka.com/sapto anggoro

Wajahnya kalem, kulitnya bersih, relatif pendiam. Datang, duduk di kursi, kerja mengetik, terima laporan, dan sesekali merokok di belakang kalau sedang senggang. Ibadahnya tampak rajin. Hidupnya teratur dan penampilannya tenang. Meski mungkin gak ada hubungannya dengan keberadaannya yang masih single (tepatnya jomblo). Gambaran itulah yang bisa ditangkap tentang Mardani, salah satu redaktur/penulis kami. Lakon dalam tulisan workstation kita ini.Namun, beberapa hari lalu Mardani mengirim BBM. Isinya, minta dikirim sejumlah uang ratusan ribu untuk beli buku. Dan, tahukah buku apa itu, semuanya tentang Tan Malaka . Diam-diam ternyata memiliki jiwa revolusioner. Salah satu buktinya, web-emailnya adalah pakai kata merdani.revolusi@xxx.com. Ketika kita bicara soal komunisme dan Tan Malaka — alias Ibrahim Datuk Sutan Malaka, maka dia akan kritis banget.Sudah dua tahun Dani — demikian kita memanggilnya — bergabung dengan merdeka.com. Selama ini, dia tidak kelihatan bahwa suka dengan pandangan-pandangan kiri. "Saya liha-lihat dulu, khawatir teman-teman lain tahu terus tidak suka sama saya," kata Dani yang di jaman merdeka masih saja sok trauma dengan sejarah.Meski berdarah betawi dari ayahnya dan ada keturunan Korea dari ibunya, tapi Dani terasa Betawi asli. Karena kami tahu dia suka dengan Tan Malaka — sebagai mantan Ketua Partai Komunis pertama Indonesia yang bertaraf internasional pada jamannya, — maka dia dipercaya memimpin laporan utama bulanan tematik tentang "Bulan Tan Malaka". Ini melanjutkan tradisi merdeka.com dengan laporan bulanan yang pernah dilakukan, Bulan Soeharto, Bulan Soekarno, dan Bulan Gus Dur.Pekan lalu, ketika sejarawan Belanda Harry A Poeze yang menulis tentang Tan Malaka dan menerbitkan beberapa buku tebal sampai 5 jilid, Mardani adalah orang yang paling bersemangat. "Wah, dia detil banget mas soal Tan Malaka ," pujinya tentang Harry. Ya, selama sekitar 3 jam pengamat sejarah Belanda itu berada di markas merdeka.com di Tebet.Pertanyaan dari Mardani tentu saja tajam dan sudah sama frekuensinya. Bukan pertanyaan mendasar tapi sudah menukik. Dan, Poeze tampak gayeng dengan suasana di markas kami, terutama dengan Mardani dan Ramadhian Fadhillah yang mendampinginya. Sayang pas makan siang, Poeze hanya mengambil pisang karena sedang terganggu pencernaannya. Rasanya, ketemu Poeze bak ketemu guru sekaligus kamus hidup tentang Tan Malaka . Ada kesamaan antara Mardani dan Poeze. Keduanya sudah agak-agak mengkultuskan Tan — kalau boleh di-superlative-kan begitu. "Tan memang jago mas. Dia pintar menurut saya. Pandangannya sudah sangat maju pada saat itu. Bahkan menurut saya, Soekarno menghormati dan menilai Tan ahli gerakan," cerita Dani. Beda dengan Poeze, dia sebagai mahasiswa sejarah, ingin menulis tentang komunisme dan tokohnya dari Asia. Dia pun menemukan nama Tan Malaka . Semakin dikaji, semakin menarik. Sejak umur 26 tahun hingga sekarang (66 tahun), Poeze tak henti meneliti Tan Malaka . "Saya sudah datang ke Suliki di Sumatera Barat, ke Kediri Jawa Timur, dan tempat-tempat lain yang menjadi jejak Tan," kata Poeze.Hampir dipastikan, kita sering disatukan dalam sebuah komunitas adalah karena hobi atau kesamaan minat. Salah satunya, minat baca. Kali ini, Dani dan Poeze membaca hal yang sama: buku komunisme dan Tan Malaka . Bagi Dani, cerita tentang ajaran "Berdikari", bahasan tentang Madilog (materialisme dialektika dan logika), Gerpolek (gerilya politik ekonomi), atau cerita tentang Aksi Massa (Mass Actie), sudah dilahapnya sejak dia masih SMP. Begitu juga buku karya-karya Karl Marx, Friedrich Engels, Vladimir Lenin, atau Trotsky tak ketinggalan pula Das Kapital.Barangkali dia tak usah memegang buku lagi pun, sudah bisa menyusun puluhan cerita tentang Tan Malaka dalam laporan "Bulan Tan Malaka" di merdeka.com ini. Namun, dia tetap perlu literatur pendukung yang bisa dipertanggungjawabkan. Tapi, soal buku dan rumah bocor, merupakan cerita sendiri bagi Dani. Suatu hari ketika hujan deras dan rumahnya banjir karena atap rumah bocor, Dani berupaya menyelematkan buku-bukunya yang sebagian kekiri-kirian. Sebagian dibungkus kardus, sebagian masuk di karung plastik beras (glangsing). Nah, dikira itu buku-buku yang ada di dalamnya adalah kertas bekas, oleh ibunya dijual ke tukang loak. Yang jadi pertanyaan, kalau buku-buku itu disobek-sobek jadi bungkus, gak masalah. Kalau dibaca juga sama tukang loak? "Bisa-bisa banyak yang ketularan revolusioner!"Pembaca yang smart. Sejak awal, kita memang tidak mengusung merdeka identik dengan merah putih dan tahun 45. Sebab, kita memang sudah lama merdeka. Tapi, merdeka kita adalah merdeka di hati, dalam pemikiran. Termasuk Dani, dia merasa mendapatkan lingkungan yang kondusif untuk bertindak dan berpikir merdeka. Hanya kebebasan berpikir yang membuat kita kian kritis dan cerdas. Maka, nikmatilah Bulan Tan Malaka , dengan tetap kritis, let’s be smart.

Halaman
Rekomendasi