Siapakah calon presiden Indonesia mendatang? Sampai sekarang belum jelas mana yang pasti, memang belum ada yang resmi dari KPU. Namun sudah muncul banyak nama yang mengaku akan mencalonkan diri menjadi presiden pada pemilu 2014 mendatang. Diantara yang sudah berkunjung ke markas merdeka.com di Tebet, sudah pernah berkunjung Dahlan Iskan, Mahfud MD, Jusuf Kalla. Jokowi juga pernah berkunjung tapi dalam kapasitas calon gubernur waktu itu. Senin sore (18/11/13) kita ketamuan calon presiden dari Partai Demokrat — tepatnya peserta konvensi Capres — Gita Irawan Wirjawan. Kunjungan ini merupakan yang kesekian kalinya ke media massa dalam rangka media visit. Sebelumnya, Gita sudah pernah melakukan kunjungan ke Vivanews, Liputan6.com, dan lain-lain. Dalam sehari tadi, menurut informasi, bahwa pada pagi harinya Gita melakukan wawancara khusus dengan detikcom, lantas ke Kompas, dan kemudian merdeka.com mendapat waktu sore. Setelah itu Gita ke Surabaya untuk ketemu dengan Gubernur Jawa Timur, Soekarwo.Kunjungan media kali ini Gita didampingi oleh tim suksesnya dalam urusan pencapresasn dan dari Kemendag yakni Kahumas Kemendag Arlinda Imbang Jaya. Di depan awak redaksi merdeka.com, Gita menjawab semua pertanyaan menyangkut kebijakannya, keluarganya, soal kedelai, daging, perdagangan bebas, bahkan soal Bunda Putri dan soal penyadapan oleh Australia. Kalau bapak disadap Australia bagaimana? “Saya marah banget. Ini kedaulatan,” kata Gita. Untuk itu, bagaimana mencegahnya, ke depan kata Gita minimum kita harus punya alat untuk mencegah penyadapan. Sebagai menteri perdagangan, Gita tentu saja berpikir untuk membuat perhitungan dengan Australia. Apalagi dalam soal daging impor, dia merasa ada kesalahan dari sisi perjanjian yang membuat Indonesia agak lemah. Namun, Gita tak mau tinggal diam. Saat ini memang tidak bisa serta merta mengevaluasi Australia dalam konteks perdagangan impor sapi. Sebab, problemnya UU peternakan diinterpretasikan seolah hanya bisa dari Australia. Jadi tidak ada liberalisasi untuk pilihan lain. Beda dengan Malaysia yang bisa juga mengambil dari India yang sekarang bagus. Meski dalam kondisi tidak menguntungkan, namun bagi Gita dalam setiap hubungan dagang atau bisnis, harus ada semangat kerjasama berkeadilan. “Itu saja yang kami minta pada Australia, harus ada semangat kerjasama keadilan.”Waktu efektif dalam berdialog di Tebet, tidak lama. Tiba pukul 15.30 WIB, pukul 16.30 sudah harus cabut karena segera ke Surabaya. Oleh karena itu, setelah Pemimpin Redaksi Didik Supriyanto mengenalkan awak redaksi, Gita langsung membuka dialog tanya jawab. Biar efektif. Dan, pertanyaan pun mengalir sahut menyahut dari awak merdeka.com. Hebatnya, semua pertanyaan diladeni sama Gita. Tidak ada yang tidak dijawab. Meski ada yang dia minta off the record, relatif kecil sekali. Soal Bunda Putri, Gita mengaku tidak tahu kejadiannya bisa seperti itu. Dia tidak kenal. Pas ada acara di Surabaya, semestinya ada anak muda yang akan menyematkan tanda ke dirinya, tahu-tahu ada orang yang tidak dia kenal. Kalau salaman tentu saja pernah dengan Bunda Putri. "Tapi ada ratusan bahkan ribuan orang mungkin pernah salaman dengan saya. Ibu Anda mau salaman pun tak akan saya tolak. Tapi tak semuanya saya kenal," katanya dengan nada santai.Setelah selesai dialog singkat dan padat, yang akan diturunkan merdeka.com dalam beberapa berita, seperti biasanya, ritual umum adalah semua tamu mendapat kesempatan untuk foto bersama di wall of fame berlogo merdeka.com warna pelangi. Tak pelak bila lelaki jangkung lulusan Harvard itu mejeng bersama awak merdeka.com sebelum meninggalkan markas kami. Gerimis kecil pun mengiringi mobil Toyota Crown Royal Saloon menuju bandara yang mengantarkan Gita ke pertemuan-pertemuan berikutnya: Surabaya. ***
Capres Gita juga berkunjung ke Tebet
Kalau bapak disadap Australia bagaimana? “Saya marah banget. Ini kedaulatan,” kata Gita.
Baca Juga
Pergantian Pemimpin Redaksi Merdeka.com
Rekomendasi