Siang itu, sekitar pukul 14.00 WIB, rekan sekantor memberitahu ada orang bule datang ke kantor. Kami diminta segera menemuinya. Karena posisi sedang di kawasan Simatupang, maka bule itu ditemui teman-teman lain.
Tamu itu, ternyata bukan sembarangan. Dialah Dave Morin, co-founder media sosial Path yang lagi digandrungi di Indonesia. Morin bukan datang tanpa janji. Sehari sebelumnya dia sudah janji dengan beberapa petinggi merdeka.com. Tentu saja kedatangannya kita sambut baik. Kesempatan menggali info dari dia, tak dilepaskan begitu saja.
Morin datang ke kantor kami di Axa Building, Kuningan City, kawasan Dr Satrio-Ambasador, yang merupakan kantor bisnis merdeka.com dan KLN Grup. Sedangkan markas kami yang di Tebet, sepenuhnya untuk redaksi. Seperti halnya di markas Tebet, di kantor AXA pun kru kami tak melepaskan kesempatan untuk narsis bersama, kemudian fotonya di upload di Path dan saling repath.
Begitu datang pada Jumat siang akhir pekan lalu, Morin saat pertama kali ditemui team kami Dhemy, tampak kagum dengan kantor kami yang artistik dan lumayan besar. Tak henti dia melihat-lihat beberapa bagian kantor, dan memandang ruang rapat yang full glasses dan meja yang diekspose kayunya sehingga terasa tekstur seratnya.
Tapi, Morin bukan mau bicara soal kantor kami. Ini hanya karena kami kerasa GR saja dengan hadirnya Morin. Yang pasti, justru dengan tandangnya Morin ini, kami lakukan lebih banyak untuk menggali info tentang dirinya, serta Path lebih detail.
“Indonesia is very very important,” kata Morin. Dia ke Indonesia sekitar seminggu, dengan tujuan penting: mempelajari lebih banyak tentang Indonesia. Waw! Tentu saja mengagetkan. Tapi itulah yang disampaikan Morin pada Ardyan M. Erlangga dan Djoko Poerwanto, dua team merdeka.com yang menemuinya.
Ardyan mendapatkan kepercayaan karena dia banyak meliput dunia ekonomi bisnis, termasuk masalah industri telekomunikasi. Tak ketinggalan liputannya juga banyak menyasar perkembangan konten digital mutakhir.
Sedangkan Djoko, adalah tim kami yang serbabisa, yang membuat kami bingung menjulukinya. Pasalnya banyak juga hobi dan bakatnya. Dia sekaligus seorang Path-mania.
Dengan dibatasi hanya 150 teman dalam Path, maka pengguna benar-benar selektif, tidak bisa seenaknya mengajak dan menerima teman. Kalau memang tidak kenal, tidak akan diterima menjadi teman di Path. Di situlah unik, asyik, dan khas yang dimiliki Path.
Dave Morin sejatinya bukan orang sembarangan. Sebelum mendirikan Path tiga tahun lalu, ia adalah alumni Apple dan Facebook. “Saya mengidolakan Steve Jobs,” kata Morin mengenang almarhum mantan big bossnya. Dilahirkan pada 1981, Morin kecil hoby dengan IT, tapi ketika remaja aktif di olahraga ski es. Uniknya meski mengaku sebagai penggelut IT sejak kecil, dia justru memilih kuliah di ekonomi, tepatnya Bachelor of Arts in Economics, University of Colorado Boulder.
Tak heran bila kemudian dia menjadi team marketing di Apple. Pengalaman yang sangat berharga untuk bekal bagaimana membangun Path dari sisi marketing. Meski malang melintang di marketing, ketika dia hengkang ke Facebook, posisinya justru sebagai senior platform manajer. Dialah yang menjadi salah satu point penting di FB dalam membangun platform yang sesuai. Namun, ambisinya untuk menjadi pemilik konten platform social media yang besar, mengantarkannya untuk bergabung bersama teman-temannya Shawn Fanning dan Dustin Mierau untuk mendirikan Path.
Di mata Morin, Indonesia yang semula tidak dipikirkan, ternyata sangat penting. Sebab, pengguna Path Indonesia mencapai lebih dari 4 juta akun (orang). Sedangkan pengguna total Path baru 25 juta akun. Artinya, hampir seperempat pengguna Path dari Indonesia. Itulah yang dia jadi kesengsem dan perlu datang ke Indonesia untuk belajar tentang negeri ini. Dia selain bicara bisnis, menemui temannya di Bali, juga mengaku bertandang ke Indonesia untuk mempelajari perilaku sosial masyarakat Indonesia. Semua itu untuk meningkatkan intensitas Path ke depan.
Apa yang paling spesial dari Indonesia selain pengguna? “Saya disambut macet yang hebat di sini, hehehe,” kata Dave Morin. Alamak. Semoga sepulang dari Bali komentarnya beda.
Begitulah pembaca. Tentu saja kehadiran Morin tak sekadar ditulis di sini. Anda bisa ikuti hasil wawancara kami dengan orang penting di salah satu sosial media internasional itu melalui artikel merdeka.com yang akan disampaikan secara serial..
Stay tune at valued site and let’s be smart.