Hilangkan panggilan pak/bu, yo'i bro!

Pembaca, begitulah suasana di kantor kami. Let's be smart, let's be egalitarian. Yo'i bro!

Rita
Oleh Rita - Reporter
Hilangkan panggilan pak/bu, yo'i bro!
pemuda merdeka. ©2013 Merdeka.com/djoko poerwanto

Tak lama setelah mengikuti pertemuan internasional di San Jose, California, AS, dua founder merdeka.com Eka Wiharto dan Steve Christian (SC) pun mendapat inspirasi. Lalu, SC -- panggilan Steve -- mengirim email yang membuat "geger" seluruh kantor.

Email tersebut langsung traffic-nya tinggi. Dalam waktu singkat ada sekitar 50x send/reply. Email dengan subject "Young & Younger" mengundang perhatian mayoritas karyawan. Selama 3 hari sejak Kamis (13/9). Isinya tentang pembiasaan untuk bersikap egaliter. Maksudnya, antarsatu orang dengan yang lain, dalam posisi equal (sederajat). Seolah tanpa sekat dan menafikan struktur -- terutama dalam hal usia.

Pendek kata, bila selama ini teman-teman di kantor memanggil "Pak" Eka dan "Pak" Steve, kedua bos ini mengajak anggota team untuk memanggil hanya dengan sebutan nama Steve atau SC. Tanpa embel-embel Pak, Om, Ayah, apalagi Kakek. Haram!

Nampaknya, banyak yang sepakat untuk menjadikan kantor egaliter. Alasannya, misalnya seorang Yoel Yaspriel yang usianya masih di bawah 30-an dipanggil Pak misalnya. "Wah Yoel bisa jadi Pastur. Pasaran turun," tukas Martha.

Ini juga disepakati oleh Dini Ardini yang selama ini sering dipanggil Mak atau Mak Uwo, walau usianya masih "kepala 2". Jadi, dia termasuk aliran yang setuju egaliter cukup panggil nama.

Untuk orang seperti Alwan, wartawan di Liputan Khas, pasti tidak bisa karena semua orang yang lebih senior dipanggil dengan sebutan khas: Om. Dan, dia pun mendapat peringatan karena itu. Kalau terus-terusan tak bisa menghentikan kebiasaan memanggil dengan cukup nama saja, tanpa embel-embel, maka Alwan dapat kena sanksi, yakni piket tambahan dan pengurangan jatah libur.

Bagaimana dengan lelaki maskot kita Djoko Purwanto. "Terus terang aku ndak bisa Pak. Kalau dihukum, monggo. Aku susah untuk memanggil Pak SC dan Pak Eka tanpa pakai sebutan 'Pak'. Maaf," kata Djoko, artistik andalan kantor.

Seorang Titis Widyatmoko yang sudah Redpel media ini, juga terpaksa mohon maaf untuk tetap memakai "Pak" untuk memanggil Yan Irwansyah, bagian IT merdeka.com. "Maaf Pak Yan, aku tetap memanggil pakai Pak," tulisnya dalam sebuah email yang belum mencerminkan egalitarien.

Sebenarnya soal ini ada dua kemungkinan, kebiasaan dan budaya. Di AS atau Eropa, sudah terbiasa dalam satu komunitas atau perusahaan, semua setara. Sehingga, antarteman memanggilnya hanya dengan nama. Sebab, untuk perusahaan yang lebih bersifat project base, pimpinan bisa ganti-ganti berdasar siapa yang ahli di bidang tertentu (kompeten), dialah sebagai "leader".

Sedangkan di sini, banyak perusahaan yang menganut sistem senior-yunior. Yang tua di atas yang muda di bawah. Ketika yang bawah berprestasi, tidak serta-merta dapat jadi pimpinan. Tetap dipimpin yang senior dan yang muda paling jadi asistennya dulu. Jadinya, kedudukan jadi langgeng sampai senior dan tua.

Namun demikian, ini juga berkaitan dengan budaya. Di kultur Indonesia -- khususnya Jawa -- ada budaya unggah-ungguh yang menghargai orang lebih tua. Sehingga, atas nama kesopanan, karyawan yang muda akan tetap kikuk kalau harus memanggil sekadar nama, tanpa atribut Pak, Bu, dll.

Jadi, memang tidak mudah untuk mengubah kebiasaan. Apalagi mengubah budaya (kultur). Dari pengalaman ini kita bisa simpulkan, yang membuat mudah atau sulit kadang adalah kemauan itu sendiri. Kalau mau, akan bisa terwujud. Kalau ragu, ya silakan dicoba saja.

Kalau tak bisa atau tak mau memanggil nama, karena sudah terlanjur sungkan dengan kebiasaan Pak atau Bu, bisa saja dicoba: Bro & Sis.

Pembaca, begitulah suasana di kantor kami. Let's be smart, let's be egalitarian. Yo'i bro!

Halaman
Rekomendasi