Sekitar pukul 11.00 WIB, Selasa (8/1/13) siang, markas kami di kawasan Tebet tiba-tiba didatangi beberapa polisi berkeliaran. Sejumlah kendaraan dan anggota polisi berjaga-jaga. Kemudian mereka menanyakan apa benar ini alamat yang dicari.Begitu dijawab bahwa alamat yang dimaksud sesuai, tak lama kemudian para pejabat dari kepolisian dari Mabes Polri pun berbondong ke markas merdeka.com di kawasan Tebet Barat, Jakarta Selatan. Mereka pun menemui Pemimpin Redaksi merdeka.com Didik Supriyanto.Rupanya, sekelompok anggota Polri yang datang bukan main-main. Mereka adalah rombongan Humas Mabes Polri yang dipimpin langsung oleh Kadiv Humas Mabes Polri Irjen Pol Suhardi Alius dengan didampingi Kabiro Penmas Mabes Polri Brigjen Pol Boy Rafli Amar, Kabiro Pengembangan Informasi & Dokumentasi (PID) Brigjen Pol M Taufik dan beberapa anggota lainnya.Mereka datang bukan untuk melakukan pemeriksaan karena kami melakukan pelanggaran hukum, tapi memang sudah janjian dengan kru merdeka.com untuk silaturahmi. Apa yang dibahas, banyak sekali. Mulai dari kasus terkini sampai masalah undang-undang Keamanan Nasional (Kamnas). Jadi, jangan salah sangka, kita memang sudah janjian.Cuma, yang bikin "keruh" adalah broadcast BBM dari Koordinator Liputan Anwar Khumaini. Bunyinya begini: "Jelang para petinggi Polri datang, banyak intel polisi ke kantor merdeka :p" Lantas, salah satu penanggap dengan enteng tidak takut sama sekali, malah bilang "Wow". Ternyata yang dimaksud Anwar adalah tindakan pengamanan standar yang dilakukan Polsek Tebet, Jakarta Selatan, yang membawahkan lokasi kami. Maklum, beberapa anggota polisi sejak pukul 9 pagi sudah berseliweran.Ya begitulah pembaca. Saat ini masalah yang berkaitan dengan kepolisian, banyak sekali. Terutama kasus kecelakaan Rasyid Amrullah Rajasa dan kasus kecelakaan mobil Dahlan Iskan. Rasyid yang mengemudikan SUV BMW X5 menabrak mobil Luxio dan menewaskan 2 orang, saat ini sudah dijadikan tersangka namun prosesnya belum tuntas. Sedangkan Dahlan yang mengendarai mobil balap Tucuxi celaka di Magetan. Banyak hal yang bisa dipersoalkan dari Tucuxi yang dikendarai menteri BUMN itu, antara lain pelat mobilnya D1 19 ternyata bodong. Bagaimana polisi bersikap, beberapa sudah dimuat merdeka.com.Seperti biasa, pertemuan diawali dengan sepatah duapatah kata tentang kinerja redaksi merdeka.com yang masih baru. "Tapi saya sudah merasa familiar sekali," ungkap Suhardi. Setelah mengetahui awak-awak yang terlibat, dan kesungguhan kami, mereka pun mafhum. Medianya baru tapi pengelolanya, menurut Suhardi sudah banyak yang dia kenal.Suasana santai dan senda gurau, apalagi setelah makan siang, semakin menghangatkan pertemuan. Gara-garanya seorang wartawan kami yang sengaja tak disebut namanya, mencecar pertanyaan pada Suhardi. "Pak, ini soal Rasyid Rajasa. Ini kan kecelakaan biasa, seperti ini biasanya cukup ditangani Polsek atau Polres. Tiba-tiba langsung ditangani Mabes oleh polisi bintang dua. Bisa dijelaskan Pak?" Dengan santai Suhardi menjelaskan panjang lebar. Dan ujung-ujungnya, kata Suhardi kan wartawan telpon saya, ya saya jelaskan setelah mengumpulkan informasi.Di kesempatan itu, Ramadhian memamerkan berita-berita kumpulan tentang #Polisi Teladan. Setelah dibuka, hampir semua isinya soal Jenderal Hoegeng. Ada juga polisi yang naik pangkat gara-gara menilang Sri Sultan HB IX. "Sebenarnya banyak loh polisi yang baik," kata Suhardi.
Jadi, bukan cuma Pak Hoegeng sebenarnya, namun tak banyak diketahui masyarakat. Maka, demi memberikan pencerahan merdeka.com, Boy Rafli pun mengambil sebuah buku disampaikan ke Suhardi yang selanjutnya dihadiahkan kepada Pemred merdeka.com Didik Supriyanto. Buku itu adalah tentang Otobiografi Irjen Pol Ursinus Elias Medellu dengan judul 'Bhayangkara Pejuang, Melawan Penjajah dan Arus Korupsi'. Ini bukan satu-satunya buku. Suhardi berjanji, akan memberikan buku-buku lain sebagai referensi tentang anggota polisi-polisi teladan.Pembaca, target kami berdiskusi dengan banyak nara sumber bukan sekadar cari berita, tapi juga info-info latar belakang yang tak terungkap dalam berita. Untuk ini, tentu kami pegang teguh sebagai bagian dari komitmen menjaga nara sumber.Sebenarnya, sejak 11.30 WIB tanpa terasa waktu sudah menunjuk pukul 14.00 WIB. Dengan sopan, Suhardi mohon pamit. "Maaf, saya harus pamit karena ada tugas lain," ungkapnya menutup diskusi. Seperti biasa, sebelum pulang, kami tukar menukar cendera mata, dan tak ketinggalan pula kita bersama-sama berpose di depan logo merdeka.com. Dan, "pemeriksaan" pun selesai dengan tenang.