"Gosipin" Ultah Jakarta dengan JJ Rizal

Jakarta ulang tahun. PRJ rame. Dulu ke PRJ pulang bawa martabak dan kerak telor, sekarang tak beda dengan mal.

Redaksi Merdeka
Oleh Redaksi Merdeka - Reporter
"Gosipin" Ultah Jakarta dengan JJ Rizal
JJ Rizal. merdeka.com/Djoko Poerwanto
Ibukota Jakarta ulang tahun ke 485, tepat hari Jumat ini, 22 Juni 2012. Kami, dari merdeka.com tak mau ketinggalan, ikut “merayakan”.  Caranya? Kami pada pekan-pekan ini banyak menulis tentang sejarah Jakarta, mulai dari kawasan yang menarik, tempat pacaran, tempat kongkow, daerah kongkow dan sebagainya. Banyak yang sudah berubah, banyak yang belum terceritakan buat generasi sekarang. Meski sudah menyiapkan banyak buku literatur, wawancara beberapa pelaku sejarah, redaksi merasa perlu melakukan diskusi dengan ahli sejarah Jakarta. Maka, merdeka.com mengundang JJ Rizal, sejarawan muda asli Betawi yang tahu detil tentang sejarah Jakarta: fakta geografis, demografis, hingga folklore (budaya masyarakat) yang hidup di situ. Kritiknya terhadap pelaksanaan PRJ (Pekan Raya Jakarta) sekarang, cukup menggelitik tapi mengena. "Dahulu orang pulang dari PRJ itu wajib membawa dua macam makanan, kerak telor dan martabak,” katanya sembari senyum renyah. Kalau sekarang? “PRJ tidak ubahnya seperti mal yang menjadi tempat promosi berbagai merek produk,” kata Rizal, kali ini dengan muka masam. Tampak getir melihat fakta PRJ yang tak memiliki nilai khas. Sudah sama dengan pameran-pameran lain. “Dulu PRJ buat melepas penat, sekarang tidak!” Ngegosip soal Jakarta atau Betawi bersama JJ Rizal memang tak ada habisnya. Dengan gayanya yang khas dan santai, dia bisa mengurai satu persatu sejarah Jakarta yang selama ini banyak dilupakan warga Jakarta sendiri. Sebagian ceritanya sudah kami sampaikan di berita dan tulisan feature. Menurut Rizal, orang sekarang memiliki kecenderungan ketika melewati bekas bangunan penting bekas kolonial, terutama yang sudah beralih fungsi cuma berkomentar: disini ada bangunan penting! “Mereka tidak berusaha mempertahankan wujud fisik bangunan sebagai peninggalan sejarah," katanya. Dari situ mencerminkan penggalian nilai sejarah masyarakat, lemah. Dengan ditemani irisan buah segar, diskusi berjalan santai tapi serius, sesekali diselingi dengan canda tawa untuk mencairkan suasana. Rasanya cerita Rizal kian menarik, apalagi sebagian wartawan merdeka.com adalah dari daerah. Rasanya banyak mendapatkan fakta baru. Masih banyak yang disampaikan Rizal mengenai sejarah Jakarta, seperti pemikiran Gubernur Jakarta ke-9 Ali Sadikin tentang tata Kota Jakarta, gagasannya tentang pemakaman umum di Jakarta, hingga cerita penyesalan Ali Sadikin sewaktu ajal akan menjemputnya. Namun diskusi yang berlangsung selama dua jam itu, seakan berjalan begitu cepat. JJ Rizal yang lulusan sejarah Universitas Indonesia telah berhasil memukai tim redaksi merdeka.com dengan berbagai fakta sejarahnya. Kita patut bangga dengan generasi muda seperti JJ Rizal, yang peduli pada nilai budaya Jakarta atawa Betawi dengan karakter khasnya yng terasa mulai luntur. Yang pasti, bagi redaksi merdeka.com upaya menggelar diskusi tersebut - meski setengah ngegosip – tujuan utamanya adalah mempertajam materi tulisan buat pembaca yang kian kritis. Selamat membaca.
Rekomendasi