Virus Corona Mulai Pukul Pasar Keuangan Global, Bagaimana Nasib Indonesia?

Jumat, 7 Februari 2020 20:12 Reporter : Anisyah Al Faqir
Virus Corona Mulai Pukul Pasar Keuangan Global, Bagaimana Nasib Indonesia? bursa saham. shutterstock

Merdeka.com - Deputi Gubernur Bank Indonesia (BI) Dody Budi Waluyo mengatakan, wabah virus corona memberikan dampak pada pasar keuangan. Hari Senin lalu, saat pasar keuangan China dibuka, mengekang semua indikator pasar keuangan secara global, termasuk Indonesia.

"Rupiah juga tertekan, tapi sampai dengan Jumat, rupiah kembali membaik," kata Dodi di Komplek Bank Indonesia, Jakarta Pusat, Jumat (7/2).

Dia menjelaskan, Rupiah mulai menguat dikarenakan larisnya lelang Surat Berharga Negara (SBN). Dengan demikian, dari sisi confident investor masih sangat besar kepada Indonesia.

Untuk itu, Bank Indonesia bersama pemerintah terus berupaya agar stabilitas ini tetap terjaga. "Memang kita melihat ada outflow yang terjadi dengan week to date," imbuhnya.

Namun sepanjang awal Januari hingga saat ini Bank Indonesia masih mencatat net inflow sekitar Rp400 miliar, sementara outflow pekan lalu tercatat Rp11 triliun. "Jadi ini gambaran yang sama capital outflow yang dampaknya terhadap pelarian dana kepada politik," kata dia.

Dodi melanjutkan ini terjadi karena China merupakan produsen utama dari barang-barang perantara (intermediary) maupun barang input produsen di banyak negara. Maka dari itu perlu dilakukan studi Khusus dampak corona terhadap sektor riil.

"Mudah-mudahan asumsinya outbreak-nya akan singkat sehingga tidak berdampak besar ke eksportir," jelasnya.

1 dari 1 halaman

Pertumbuhan Ekonomi RI

Ketua Kamar Dagang (Kadin) Indonesia, Rosan Perkasa Roeslani menyebutkan, virus corona memberi dampak menyeluruh terhadap perekonomian dunia, termasuk Indonesia. Seperti ekonomi China yang diprediksi menurun dari 6 persen menjadi 4,5 persen.

Begitu juga dengan Indonesia. Jika China turun 1 persen, maka ekonomi Indonesia diperkirakan turun sebesar 0,3 persen. Dia khawatir, apabila kerjasama dua negara yang bekerja sama dengan Indonesia ini alami penurunan terus-menerus, maka akan alami hambatan lain.

"Sekarang kita sangat sensitif dengan pertumbuhan China. China adalah partner terbesar dengan kita. dan Amerika partner kedua terbesar. Jadi efeknya dari kedua negara menurun diperkirakan ini juga akan mengalami hambatan," ungkapnya.

Reporter: Tira Santia

Sumber: Liputan6.com [azz]

Baca juga:
Dipicu Harga Cabai dan Bawang, Inflasi Awal Pekan Februari 0,23 Persen
Indef Sebut Kelas Menengah di Indonesia Masih Ketergantungan Impor
Menko Luhut Soal Dampak Virus Corona Besar ke Ekonomi RI: Kita Tak Perlu Tutupi
Jokowi soal Ekonomi Melambat: Jangan Kufur Nikmat, Negara Lain Malah Anjlok
Pendapatan per Kapita Ditarget Jokowi Rp320 Juta, 2019 Baru Capai Rp59,1 Juta
Masih Ada Ketidakpastian Global, Ekonomi RI 2020 Diramal Masih Tumbuh 5 Persen

Komentar Pembaca

Merdeka.com sangat menghargai pendapat Anda. Bijaksana dan etislah dalam menyampaikan opini. Pendapat sepenuhnya tanggung jawab Anda sesuai UU ITE.

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini