Tak Seperti 1998, Demo dan Kerusuhan Papua Tak Berdampak pada Perbankan

Selasa, 24 September 2019 12:46 Reporter : Yayu Agustini Rahayu
Tak Seperti 1998, Demo dan Kerusuhan Papua Tak Berdampak pada Perbankan Kepala Eksekutif LPS Fauzi Ichsan. ©2019 Merdeka.com/Yayu Agustini Rahayu

Merdeka.com - Kondisi politik dan keamanan di Tanah Air kini tengah menjadi sorotan. Banyak aksi menolak beberapa kebijakan seperti RUU KPK, RUU KUHP hingga kerusuhan di Papua yang tak kunjung usai.

Namun, Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) menilai kisruh nasional yang kini tengah terjadi di Indonesia tidak akan mempengaruhi investasi dan simpanan di perbankan.

Kepala Eksekutif LPS, Fauzi Ichsan menjelaskan ada beberapa hal yang dapat mengganggu stabilitas simpanan di perbankan.

"Kalau kita bicara simpanan sangat bergantung dengan suku bunga, pertumbuhan ekonomi, inflasi, dan aliran modal dari luar negeri," kata dia saat ditemui di kantornya, Selasa (24/9).

Berkaca pada pengalaman, kisruh nasional bisa saja dapat berpengaruh pada iklim investasi hingga simpanan di perbankan. Namun aksi tersebut yang berskala besar seperti kerusuhan pada 1998 silam. Sementara aksi saat ini dinilai masih jauh dari kondisi tersebut.

"Kan ini masih jauh dibanding kerusuhan 1998," ujarnya

Selain itu, dia menegaskan dinamika dalam dunia politik merupakan hal yang lumrah terjadi. Tak hanya di Indonesia, hal-hal serupa kerap terjadi juga di negara lainnya. Selama tidak menjelma menjadi sebuah kerusuhan, hal itu tidak akan membawa dampak buruk terhadap perekonomian.

"Jadi, dinamika politik biasa, bukan di Indonesia saja. Yang penting gak kerusuhan seperti 98," katanya.

1 dari 1 halaman

Kerusuhan Papua Telan Korban Jiwa

Kerusuhan di Wamena, Papua, memakan korban jiwa. Terdata 22 warga meninggal dunia atas insiden tersebut.

"22 Meninggal dunia, 1 di rumah sakit yang kritis," tutur Kabid Humas Polda Papua Kombes AM Kamal lewat pesan singkat, Selasa (24/9/2019).

Kamal menyebut, dari puluhan korban tewas tersebut, ada di antaranya yang terjebak dalam bangunan yang terbakar.

"Mereka ada satu keluarga yang terjebak dibakar massa rumahnya," jelas Kamal.

Ribuan masyarakat di Wamena, Kabupaten Jayawijaya, Papua, mengungsi ke markas polisi dan TNI sejak Senin, 23 September 2019. Mereka mengungsi karena kerusuhan anarkis yang terjadi di kota tersebut.

"Ada ribuan masyarakat mengungsi di Mapolsek, Mapolres, dan Kodim. Sampai Selasa pagi ini mereka masih mengungsi," ujar Kepala Bidang Humas Polda Papua Kombes AM Kamal kepada Liputan6.com.

Menurut dia, ada kemungkinan mereka akan kembali ke rumah masing-masing karena situasi keamanan di Wamena sudah kondusif.

Sementara ini, anggota Polri dan TNI terus berpatroli serta berjaga di permukiman warga. Penjagaan dilakukan untuk menghindari adanya kejadian tak diinginkan yang merugikan masyarakat kembali terjadi.

"Jadi anggota kita dan TNI, selain di objek vital, juga mengamankan perkampungan dengan patroli dan penjagaan. Ini untuk mencegah upaya pembakaran dan penjarahan barang-barang di rumah warga yang ditinggalkan untuk mengungsi," kata Kamal soal situasi di Wamena. [idr]

Baca juga:
Ratusan Mahasiswa di Aceh Turun ke Jalan Tolak RUU Pertanahan
UIN dan Unpam Bergerak ke DPR, Tolak Seluruh Revisi Undang-Undang
Mahasiswa Palembang Long March ke Gedung DPRD
Demo di Makassar Berujung Ricuh, 2 Mahasiswa Sembunyi Dalam Showroom Mobil
Mahasiswa Tolak RUU KUHP, Istana Sebut 'Pemerintah-DPR Sepakat Ditunda'
Ratusan Petani Unjuk Rasa di Istana Negara

Komentar Pembaca

Merdeka.com sangat menghargai pendapat Anda. Bijaksana dan etislah dalam menyampaikan opini. Pendapat sepenuhnya tanggung jawab Anda sesuai UU ITE.

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini