Kantor Perwakilan Bank Indonesia (BI) Sulawesi Selatan menyoroti potensi besar desa wisata di provinsi tersebut untuk menarik investasi. Investasi ini diharapkan dapat memperkuat ekonomi daerah secara signifikan. Langkah ini juga bertujuan untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah di tengah dinamika ekonomi nasional.
Ekonom Senior Kpw BI Sulsel, Deded Tuwanda, dalam diskusi bertema "Kiprah Bank Indonesia dalam Pertumbuhan Ekonomi Daerah" di Makassar, Rabu malam, menyatakan bahwa setiap desa wisata memiliki karakteristik unggulan. Menurutnya, potensi ekonomi lokal tidak hanya digerakkan oleh dukungan anggaran pemerintah semata. Dorongan investasi berkelanjutan menjadi kunci utama dalam pengembangan ini.
Selama ini, pembiayaan ekonomi di daerah masih sangat bergantung pada Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) serta Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). Kondisi ini mendorong BI dan pemerintah daerah mencari sumber pembiayaan alternatif. Investasi sektor riil dianggap sebagai solusi strategis untuk mempercepat pertumbuhan ekonomi di Sulawesi Selatan.
Advertisement
Advertisement
Potensi Besar Desa Wisata Sulawesi Selatan
Deded Tuwanda menekankan bahwa Sulawesi Selatan sangat kaya akan destinasi pariwisata yang unik dan beragam. Kekayaan desa wisata di Sulsel ini menjadikannya fokus investasi yang menarik. Setiap desa menawarkan pengalaman berbeda bagi wisatawan, mulai dari keindahan alam hingga kekayaan budaya lokal yang otentik.
Sebagai contoh, Deded menyebut Pantai Bira dengan pasir putihnya yang memukau, serta Toraja dengan kekuatan budayanya yang mendunia. "Tinggal bagaimana membuat atraksi yang berkelanjutan, sehingga wisatawan bisa 'stay' lebih lama dan melakukan 'spending' di daerah. Itu bagus untuk ekonomi lokal," ujarnya.
Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Sulsel, Muhammad Arafah, mengungkapkan bahwa jumlah desa wisata di Sulsel terus bertambah pesat. Pada tahun 2021, terdapat hampir 200 desa wisata, kemudian meningkat menjadi lebih dari 400 pada tahun 2022. Angka ini terus melonjak hingga lebih dari 500 di tahun 2023, dan kini mencapai lebih dari 600 desa wisata di tahun 2024.
Advertisement
Peningkatan signifikan ini didorong oleh keindahan alam Sulawesi Selatan yang alami dan infrastruktur transportasi yang semakin memadai. Arafah menambahkan, "Kita punya 24 kabupaten/kota dan lebih dari 300 pulau. Potensi pariwisata kita luar biasa karena hampir semua tempat di Sulawesi Selatan itu indah dan cantik."
Advertisement
Strategi Menarik Investasi Sektor Riil
Untuk memperluas sumber pembiayaan ekonomi, BI bersama Pemerintah Provinsi Sulsel aktif mendorong setiap kabupaten dan kota. Mereka diminta untuk menyiapkan proyek-proyek investasi dalam bentuk "investment project ready to offer". Proyek-proyek ini dirancang agar dapat langsung ditawarkan kepada investor, termasuk dari luar negeri.
Deded menjelaskan bahwa proyek yang siap ditawarkan ini akan mempermudah investor dalam mengambil keputusan. "Ketika sudah ada 'investment project ready to offer' kita bisa tawarkan ke investor, terutama investor asing," kata Deded. Pendekatan ini diharapkan dapat menarik modal besar yang dibutuhkan untuk pengembangan desa wisata.
Investasi asing di sektor riil memiliki keunggulan dibandingkan investasi di pasar keuangan. Modal yang masuk ke sektor riil cenderung tidak mudah keluar seperti di surat berharga atau saham. Hal ini memberikan stabilitas jangka panjang bagi ekonomi lokal dan nasional. Fokus pada investasi riil ini menjadi prioritas utama BI dan Pemprov Sulsel.
Advertisement
Advertisement
Dampak Positif Investasi pada Ekonomi Lokal dan Rupiah
Masuknya investasi asing ke sektor riil di desa wisata akan membawa implikasi positif yang luas. Selain menciptakan lapangan kerja dan meningkatkan pendapatan masyarakat lokal, investasi ini juga memperkuat struktur ekonomi daerah. Peningkatan jumlah wisatawan dan lama tinggal mereka akan mendorong pertumbuhan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) di sekitar desa wisata.
Lebih lanjut, Deded Tuwanda menyoroti dampak positif investasi ini terhadap stabilitas nilai tukar rupiah. "Kalau investor asing masuk ke sektor riil, tentu modalnya tidak gampang keluar seperti di surat berharga atau saham. Itu bagus juga karena berimplikasi positif pada nilai tukar rupiah," tuturnya. Aliran modal jangka panjang ini akan mengurangi tekanan pada mata uang domestik.
Dengan demikian, pengembangan desa wisata melalui investasi bukan hanya sekadar upaya promosi pariwisata. Ini adalah strategi komprehensif untuk membangun kemandirian ekonomi daerah dan menjaga stabilitas makroekonomi. Sinergi antara pemerintah, BI, dan investor diharapkan mampu mewujudkan potensi besar Sulawesi Selatan.
Advertisement
Sumber: AntaraNews