Survei BPS: Masyarakat Indonesia Habiskan Uang di Luar Negeri Hingga Rp38 Juta
Merdeka.com - Presiden Joko Widodo (Jokowi) berharap bisa mengerem laju wisatawan nusantara yang pelesiran ke luar negeri. Ini perlu dilakukan agar tidak terlalu banyak devisa yang terbuang masuk ke negara lain.
"Kalau kita rem separuh saja, devisanya akan sangat besar sekali yang tidak terbuang masuk ke negara lain," kata Jokowi saat meresmikan Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Lido di Bogor, Jawa Barat, Jumat (31/3).
Berdasarkan hasil survei digital yang dilakukan Badan Pusat Statistik (BPS) pada tahun 2021, uang yang dikeluarkan orang Indonesia untuk perjalanan personal rata-rata menghabiskan USD2.379 atau setara Rp35,62 juta.
Sedangkan orang yang melakukan perjalanan bisnis menghabiskan dana rata-rata USD2.538 atau setara Rp38 juta. Dalam survei tersebut dijelaskan pengeluaran untuk perjalanan bisnis cenderung lebih besar dibandingkan tujuan personal.
Namun di sisi lain orang Indonesia yang melakukan perjalanan personal paling banyak dilakukan untuk menjalani pengobatan di luar negeri yang mencapai USD6.873 atau setara Rp102,84 juta.
Pengeluaran secara umum yang dihabiskan orang Indonesia sebagian besar untuk biaya akomodasi atau perjalanan (34,91 persen) antar negara. Kemudian sebanyak 18,23 persen digunakan untuk makan dan belanja keperluan pribadi sebanyak 11,75 persen.
Survei ini dilakukan BPS pada tahun 2021 melalui survei digital dari orang-orang yang melakukan perjalanan luar negeri di tahun tersebut. Survei ini diikuti oleh 506 responden. Dari jumlah responden tersebut, sebagian besar 63,75 persen orang yang pergi keluar negeri untuk tujuan personal yakni liburan dan mengunjungi teman atau keluarga yang berada di luar negeri. Sedangkan sisanya 36,25 persen melakukan perjalanan bisnis.
Negara-negara di wilayah Asia masih menjadi tujuan utama orang Indonesia pergi keluar negeri. Persentase tertinggi ke berbagai negara di Asia (36,25 persen), ASEAN (24,27 persen), Eropa (16,83 persen), Timur Tengah (9,71 persen), Amerika Serikat (10,68 persen), Oseania (1,29 persen) dan Afrika (0,97 persen).
(mdk/azz)Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya