Strategi Kemenperin Cetak IKM Lokal Berkelas Global

Kamis, 15 Juli 2021 17:27 Reporter : Anggun P. Situmorang
Strategi Kemenperin Cetak IKM Lokal Berkelas Global Pengrajin anyaman Rotan Sepi Pemesanan. ©2020 Merdeka.com/Dwi Narwoko

Merdeka.com - Kementerian Perindustrian terus melakukan pembinaan industri kecil dan menengah (IKM) berbasis sentra, salah satunya melalui One Village One Product (OVOP). Pendekatan pembinaan ini memiliki semangat untuk mengangkat potensi daerah yang memiliki kearifan lokal sehingga menghasilkan produk yang berdaya saing dan diterima oleh pasar nasional maupun global.

Konsep OVOP pertama kali diperkenalkan di Prefektur Oita Jepang pada 1979 oleh Dr. Morihiko Hiramatsu. Upaya ini didasarkan dengan spirit untuk mendorong masyarakat suatu daerah agar dapat menghasilkan produk yang kompetitif dengan nilai tambah tinggi dan mampu bersaing di tingkat global, namun tetap memiliki ciri khas keunikan dan karakteristik daerah tersebut. Pendekatan OVOP ini juga mengoptimalkan sumber daya lokal, baik itu sumber daya alam maupun sumber daya manusianya.

"Pembinaan IKM di sentra melalui OVOP memiliki tiga prinsip dasar," kata Direktur Jenderal Industri Kecil, Menengah dan Aneka (IKMA) Kemenperin, Gati Wibawaningsih, Jakarta, Kamis (15/7).

Prinsip dasar pertama, yakni local yet global. Artinya mengupayakan potensi lokal untuk menghasilkan produk yang berdaya saing global. Kedua, self reliance and creativity, menekankan bahwa kemandirian masyarakat setempat menjadi pendorong utama program OVOP. Ketiga, human resource development, yaitu pengembangan SDM berperan penting terhadap suksesnya program OVOP.

Konsep OVOP diperkenalkan dan diadopsi di Indonesia sejak tahun 2007, dan mulai tahun 2013 Kementerian Perindustrian memberikan Penghargaan OVOP kepada IKM yang memenuhi kriteria OVOP dalam bentuk pemberian bintang sesuai dengan hasil penilaiannya pada lima kelompok komoditi, yaitu makanan dan minuman, kain tenun, kain batik, anyaman, serta gerabah.

2 dari 2 halaman

Selanjutnya

strategi kemenperin cetak ikm lokal berkelas global

Penghargaan OVOP terakhir diselenggarakan pada tahun 2018. Saat itu, ditetapkan sebanyak 112 IKM OVOP, dengan empat IKM yang meraih OVOP bintang 5, yaitu PT. Tama Cokelat Indonesia (komoditi makanan dan minuman dengan produk cokelat dodol), Tenun Antik Hj. Fatimah Sayuthi (komoditi kain tenun), Batik Winotosastro (komoditi kain batik), dan UD. Mawar Art Shop (komoditi anyaman dengan produk anyaman ketak).

"Untuk tahun depan, kami menargetkan setidaknya dari 534 kabupaten/kota di seluruh Indonesia dapat mengusulkan paling sedikit 1 IKM yang merupakan penghela di Sentra IKM unggulan daerahnya," jelas Gati.

Konsep OVOP diperkuat dengan diterbitkannya Peraturan Menteri Perindustrian Nomor 14 Tahun 2021 tentang Pengembangan IKM di Sentra IKM melalui OVOP. Melalui Permenperin ini, peran Pemerintah Kabupaten/Kota lebih aktif terlibat sebagai pengusul IKM OVOP, sementara Pemerintah Provinsi dilibatkan sebagai bagian dari Tim Seleksi.

"Menilik kekayaan ragam hayati dan budaya di Indonesia, perlu lebih ditingkatkan lagi pendekatan OVOP ini agar bisa menghasilkan IKM yang berdaya saing global dengan kearifan lokal, imbuhnya. Oleh karena itu, Ditjen IKMA Kemenperin menggelar kegiatan Sosialisasi Program OVOP, yang diharapkan dapat membangkitkan kembali gairah usaha bagi para pelaku IKM di tengah kondisi pandemi saat ini," tandas Gati.

[bim]

Baca juga:
Terdampak Corona, Supervisor Ini Banting Setir Jual Nasi Uduk
Imbas Corona, Pedagang Hewan Kurban Banting Harga
Jurus Jitu UKM Bertahan di Masa PPKM Darurat dan Mikro
KemenkopUKM: Penyaluran BPUM Rp1,2 Juta Berpotensi Terhambat Akibat Covid-19
Cerita Pengusaha Usia 20 Tahun Mampu Raup Rp500 Juta/Bulan Saat di Tengah Pandemi
Menkeu: Survei Tunjukan Program PEN Bantu UMKM Bertahan Selama Pandemi Covid-19
UMKM Naik Kelas, Indonesia Bangkit Ekonomi Maju

Komentar Pembaca

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini