Sri Mulyani: Penguatan Nilai Tukar Rupiah Belum Berdampak Pada APBN

Selasa, 14 Januari 2020 19:31 Reporter : Idris Rusadi Putra
Sri Mulyani: Penguatan Nilai Tukar Rupiah Belum Berdampak Pada APBN Sri Mulyani. ©Instagram Sri Mulyani

Merdeka.com - Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani Indrawati menyebut bahwa penguatan nilai tukar Rupiah terhadap Dolar Amerika Serikat atau USD masih belum memberikan dampak untuk penerimaan APBN, terutama dari sisi minyak dan gas (migas).

Sri Mulyani menuturkan, penguatan Rupiah tersebut baru terjadi dalam beberapa waktu terakhir, sehingga perkembangan dan pengaruhnya akan dilihat dalam setahun, tidak bisa hanya dilihat per hari.

"Ya kita masih akan lihat satu tahun ini perkembangannya dan pengaruhnya kepada APBN kan tidak dilihat per hari," kata Sri Mulyani di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta dikutip dari Antara, Selasa (14/1).

Sri Mulyani mengatakan pihaknya masih akan menghitung berdasarkan perkembangan dari perekonomian baik dari sisi dalam negeri maupun kondisi global untuk melihat dampak penguatan rupiah bagi ekonomi Tanah Air.

Menurut dia, faktor peningkatan penerimaan negara tidak hanya dari rendahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar saja, melainkan juga dari eksternal yaitu kelanjutan kesepakatan dagang antara AS dengan China.

"Biasa dinamika nilai tukar jadi kita akan terus menghitung berdasarkan perkembangan dari ekonomi dalam negeri dan global," ujar Sri Mulyani.

Selain itu, dia menyebutkan pemerintah juga masih terus menunggu terkait pemangkasan suku bunga global agar aliran modal asing atau capital inflow dapat masuk lebih banyak ke Indonesia. "Kemudian suku bunga yang rendah secara global itu menyebabkan capital inflow," katanya.

Tak hanya itu, dia menuturkan pemerintah juga mewaspadai defisit transaksi berjalan (CAD) yang masih melebar, sebab dengan adanya penguatan rupiah maka nilai ekspor akan lebih rendah daripada impor. "Kita juga masih waspada karena CAD kita masih ada," ujar Sri Mulyani.

1 dari 1 halaman

Bos BI Sebut Fundamental Ekonomi RI Menguat

Gubernur Bank Indonesia, Perry Warjiyo mencatat bahwa nilai tukar Rupiah terhadap Dolar AS atau USD menguat ke level Rp13.772 dari sebelumnya Rp 13.854. Menurut Perry, penguatan Rupiah ini mencerminkan fundamental ekonomi dalam hal pertumbuhan ekonomi masih terjaga bagus.

"Kita perkirakan 5,1 (persen) sampai 5,5 (persen)," kata Perry di Komplek Bank Indonesia, Jakarta (10/1).

Perry juga menyebut fundamental ekonomi terlihat dari inflasi Indonesia yang rendah di kisaran dan sasaran 3 persen plus minum satu. Fundamental ekonomi juga terlihat dari cadangan devisa yang masih tinggi.

"Kami pandang penguatan Rupiah ini konsisten dengan kondisi fundamental ekonomi Indonesia yang memang membaik," papar Perry.

Penguatan Rupiah juga berlangsung konsisten dengan mekanisme pasar yang berjalan dengan baik. Suplai dan pasokan dari valas lebih besar dari permintaan.

Perry memastikan penguatan Rupiah ini juga menunjukkan sikap positif antara kebijakan pemerintah dan kebijakan Bank Indonesia. "Komitmen kami menjaga stabilitas nilai tukar rupiah sesuai fundamental dan mekanisme pasar," katanya.

Hal ini dibuktikan sejak tahun 2018 dan 2019 rupiah bergerak stabil sesuai dengan mekanisme pasar. Untuk itu Bank Indonesia akan terus mengawal rupiah agar sejalan dengan fundamental sejalan dengan mekanisme pasar.

[idr]
Komentar Pembaca

Merdeka.com sangat menghargai pendapat Anda. Bijaksana dan etislah dalam menyampaikan opini. Pendapat sepenuhnya tanggung jawab Anda sesuai UU ITE.

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini