Better experience in portrait mode.
Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan

Sri Mulyani: Penerimaan Pajak Anjlok 2,5 Persen

Sri Mulyani: Penerimaan Pajak Anjlok 2,5 Persen Menkeu Sri Mulyani. ©2018 Merdeka.com/Yayu Agustini Rahayu

Merdeka.com - Menteri Keuangan, Sri Mulyani Indrawati mencatat, realisasi penerimaan pajak hingga Maret 2020 negatif 2,5 persen atau turun jika dibandingkan dengan penerimaan pajak pada tahun lalu. Realisasi penerimaan pajak hingga akhir Maret 2020 tercatat senilai Rp241,6 triliun.

"Total penerimaan pajak kita negatif 2,5 persen," ujar Sri Mulyani dalam Video Conference di Jakarta, Jumat (17/4).

Sri Mulyani kemudian membeberkan sejumlah faktor yang menyebabkan penerimaan pajak menurun pada bulan lalu. Salah satunya adalah penerimaan Pajak Penghasilan (PPh) Non-migas yang menurun hingga 3 persen atau hanya Rp137,5 triliun.

"Penurunan PPh Non migas ini karena adanya relaksasi pembayaran PPh orang pribadi dan turunnya PPh badan karena perusahaan banyak yang mengalami tekanan. Sehingga banyak korporasi melakukan penyesuaian," jelasnya.

Meski ada pelemahan PPh Non Migas, peningkatan justru terjadi pada Pajak Pertambahan Nilai (PPN) yang tumbuh sekitar 2,5 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Tercatat penerimaan PPN sebesar Rp92 triliun.

"Realisasi PPN tersebut angka yang menggambarkan kegiatan ekonomi yang menggeliat dan memperlihatkan adanya akselerasi pada Februari lalu yang kemudian dibayarkan pada Maret," tandasnya.

Pemerintah Tambah Utang

utang rev3Rekonstruksi prajurit tni pembunuh kacab bank BUMN. ©2025 Merdeka.com

Menteri Keuangan, Sri Mulyani mencatat hingga akhir Maret 2020 pembiayaan utang mencapai 21,7 persen atau sekitar Rp76,5 triliun dari Anggaran Penerimaan dan Belanja Negara (APBN). Tambahan utang tersebut terdiri dari Surat Berharga Negara (SBN) dan pinjaman.

"Sampai Maret kita sudah merealisasikan penerbitan SBN neto sebesar Rp83,9 triliun atau 21,6 persen terhadap APBN. Pinjaman neto justru landai Rp7,4 triliun atau 19,8 persen," ujar Sri Mulyani dalam Video Conference di Jakarta, Jumat (17/4).

Jumlah utang diperkirakan masih akan mengalami peningkatan karena pasar keuangan mengalami guncangan yang cukup besar akibat pandemi virus corona. Berbagai negara juga melakukan hal yang sama untuk menekan dampak pandemi.

"Dari sisi pembiayaan akan mengalami peningkatan yang cukup besar. Ini terutama dalam sebuah situasi di mana pasar bonds baik dalam negeri atau dalam negeri mengalami guncangan akibat Covid-19 ini," jelasnya.

Sri Mulyani melanjutkan, pilihan menarik utang baru juga dipertimbangkan karena penerimaan negara yang terus tertekan. Sedangkan pemerintah harus menggelontorkan belanja yang cukup besar terutama untuk sektor kesehatan.

"Hari ini kita akan melihat postur pembiayaan akan mengalami perubahan seiring dengan tadi penerimaan negara yang mengalami tekanan dan belanja negara yang mengalami akselerasi terutama untuk membantu bidang kesehatan dan sosial dan membantu sektor ekonomi kita," tandasnya.

(mdk/idr)
Geser ke atas Berita Selanjutnya

Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya

Buka FYP