KAPANLAGI NETWORK
MORE
  • FIND US ON

Sri Mulyani: Di AS mal tutup karena orang lebih suka belanja online

Rabu, 13 September 2017 20:25 Reporter : Andrian Salam Wiyono
Sri Mulyani. ©2017 merdeka.com/Yayu Agustini Rahayu

Merdeka.com - Menteri Keuangan, Sri Mulyani mengatakan, bahwa mal atau pusat perbelanjaan saat ini sudah memasuki masa penurunan tren atau sunset. Soalnya, kehadiran online shop dengan generasi milenialnya, sedikit demi sedikit menggerus industri konvensional seperti mal.

Pernyataan Sri Mulyani berkaca dari banyaknya mal di Amerika. Namun, kini masyarakat Amerika lebih senang belanja online lewat Amazon karena kemudahan dan harga yang ditawarkan lebih murah.

"Mal itu industri sunset, di Amerika saja ada mal tutup karena orang lebih suka belanja di Amazon," kata Sri Mulyani dalam acara Rakernas Majelis Ekonomi dan Kewirausahaan (MEK) dan Silaturrahmi Kerja Nasional Jaringan Saudagar Muhammadiyah (JSM) di Hotel Bidakara, Grand Savoy Homann, Kota Bandung, Rabu (13/9).

Di Indonesia menurutnya, tren pusat perbelanjaan juga sudah menunjukkan grafik penurunan. Ini bisa dilihat dari pajak yang diterima negara. Sedangkan pemasukan tertinggi saat ini diterima dari sektor jasa pengiriman. Kata Sri, ini sudah cukup membuktikan bahwa transisi permintaan masyarakat terhadap kebutuhan online terus meningkat.

"Penerimaan pajak kami yang tinggi dari jasa pengiriman. Sekarang toko lesu. Jasa pengiriman tinggi. Itu kalau mau dipikirkan. ā€ˇPemerintah melihat dunia berubah. Kita berkompetisi dengan MEA, G20, PBB," tandasnya.

Mantan Direktur Pelaksana Bank Dunia ini kemudian menyarankan agar Muhammadiyah dengan jaringan yang dimilikinya agar bisa membentuk holding company. Salah satu sektor yang digarap asuransi pendidikan dan kesehatan. "Muhammadiyah ini potensinya besar. Awalnya Muhammadiyah ini-kan bergerak di pendidikan. Lalu kesehatan. Kalau kesehatannya kan di rumah sakit, kenapa enggak membuat asuransi pendidikan dan kesehatan saja," saran Sri.

Dia mencontohkan Lippo Grup yang berkembang karena strategi bisnisnya untuk menggarap kebutuhan manusia. Sri tidak ragu dengan Muhammadiyah jika ingin bersaing dengan memanfaatkan potensi tersebut. "Yang ada malah Lippo-kan. Saya bayangkan pola bisnisnya korporasi, sehingga ini tetap terjaga," tandasnya. [idr]

Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini

Subscribe and Follow

Temukan berita terbaru merdeka.com di email dan akun sosial Anda.