Setuju Dengan Prabowo, Ekonom Ini Sebut Indonesia Tengah Alami Deindustrialisasi
Merdeka.com - Calon presiden nomor urut 02, Prabowo Subianto mengatakan Indonesia saat ini sedang mengalami kemunduran karena proses deindustrialisasi. Untuk itu, pihaknya ingin melakukan industrialisasi di Indonesia.
Direktur Eksekutif Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia, Mohammad Faisal menyetujui pendapat tersebut. Menurutnya, yang terjadi saat ini adalah deindustrialisasi dini.
"Betul, bukan deindustrialisasi saja tapi deindustrialisasi dini, dilihat dari pertumbuhan sektor manufaktur yg lebih rendah dibanding pertumbuhan PDB, 4 persen berbanding 5 persen," kata dia saat dihubungi merdeka.com, Selasa (15/1).
Dia menjelaskan, deindustrialisasi sebenarnya juga terjadi di berbagai negara maju. Tapi yang berbeda adalah deindustrialisasi di negara maju terjadi setelah proses industrialisasi yang matang.
"Itu proses natural karena mereka telah melewati fase industrialisasi yang matang dan pendapatan per kapita sudah sangat tinggi. Masalahnya deindustrialisasi di Indonesia terlalu dini saat pendapatan per kapita masih pada kategori menengah-rendah," urai Faisal.
Menurutnya, faktor penyebab deindustrialisasi adalah daya saing industri nasional yang secara general lemah baik dalam bersaing di pasar domestik maupun pasar ekspor. Hal tersebut disebabkan oleh biaya produksi yang tinggi, seperti tingginya biaya energi dan logistik. Juga inefisiensi dalam proses produksi.
"Serta tidak sinkronnya insentif untuk mendorong perkembangan sektor manufaktur baik insentif fiskal maupun non fiskal," ungkapnya.
Tak hanya Faisal, Ekonom Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Bhima Yudhistira pun menyetujui bahwa saat ini memang terjadi deindustrialisasi. Hal tersebut dapat dilihat dari turunnya kontribusi sektor manufaktur terhadap PDB ke kisaran 20 persen, padahal kontribusi manufaktur terhadap PDB pernah menyentuh 26 persen.
"Kita terlalu cepat meloncat dari pertanian kemudian industri dan langsung ke sektor jasa. Imbasnya serapan tenaga kerja tidak optimal dan indonesia rentan masuk ke jebakan kelas menengah," jelas dia.
Hal yang perlu dilakukan pemerintah untuk memperbaiki kinerja sektor manufaktur antara lain, memperhatikan insentif yang sudah ada di paket kebijakan ekonomi XVI. "Evaluasi paket mana yang belum berjalan, kemudian tingkatkan koordinasi dengan pemda," imbuhnya.
"Permudah perizinan investasi sektor manufaktur melalui sistem OSS (online single submission). Dorong hilirasisi industri berbahan baku SDA misalnya sawit bisa diolah menjadi beragam produk turunan petrokimia. Ini juga untk tingkatkan produk ekspor bernilai tambah," ujar dia.
Program peningkatan ketrampilan SDM melalui pendidikan sekolah vokasi dan pemagangan pun perlu ditingkatkan sehingga skill yang dibutuhkan industri bisa match dengan tenaga kerja yang ada.
"Karena 60 persen tenaga kerja kita adalah lulusan SMP ke bawah. Pacu penerapan teknologi dan inovasi dibidang industri. Ini melalui kolaborasi antara industri dan perguruan tinggi," tandasnya.
(mdk/azz)Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya