Serap produksi baja nasional, Indonesia siap bermitra dengan Ceko

Rabu, 2 Mei 2018 10:43 Reporter : Rohimat Nurbaya
Serap produksi baja nasional, Indonesia siap bermitra dengan Ceko Menperin Airlangga Hartarto memberikan cendera mata kepada Wakil Menteri Luar Negeri Ceko Martin Tlapa. ©2018 Merdeka.com

Merdeka.com - Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto melakukan kunjungan dinas ke Republik Ceko, Senin (30/4) waktu setempat. Sesampainya di sana, Airlangga disambut oleh Wakil Menteri Luar Negeri Ceko, Martin Tlapa.

Dalam kunjungan ke Ceko, kata Airlangga, ada beberapa hal yang dibicarakan, salah satunya kerjasama bilateral untuk penguatan industri pertahanan. Kemudian soal rencana ekspor baja produksi Indonesia ke Ceko.

"Pengembangan di industri pertahanan dapat memacu sektor terkait lainnya seperti industri komponen, industri baja dari hulu sampai hilir termasuk stainless steel yang akan terserap dalam proses produksi," kata Airlangga.

Menurut dia, Indonesia dan Ceko memiliki potensi besar untuk menjalin hubungan yang lebih erat, khususnya untuk industri pertahanan. Terutama di bidang alat utama sistem persenjataan (alutsista), sebab Indonesia memiliki prospek pasar dan daya saing cukup baik. Misalnya, PT Pindad (Persero) yang telah mumpuni dalam merancang dan membuat kendaraan tempur, persenjataan, dan amunisi.

"Penguatan daya saing alutsista pertahanan nasional semakin dipacu melalui kegiatan penelitian, pengembangan dan rekayasa yang dilakukan kerjasama antara Kementerian Perindustrian dan Tentara Nasional Indonesia," ucapnya.

Akhir april ini saya dan team @kemenperin_ri berkesempatan melakukan kunker ke benua Eropa, negara pertama yang kami datangi Republik Ceko, jadwalnya padat, baru landing, jam pertama kami langsung meeting dengan Wakil Menteri Luar Negeri Republik Ceko, Pak Martin Tlapa, sekedar kulonuwun dan membicarakan apa yang bisa kita kerjakan bersama dalam kapasitas Industri. Tak hanya itu, pemerintah Ceko juga berkomitment mendukung Indonesia untuk mendapatkan kursi di Dewan Keamanan tidak tetap PBB. Suasana pertemuan cair dan hangat, Pak Martin ramah sekali disela-sela meeting banyak canda di antara kami, beliau juga sempat menanyakan bagaimana saya mengurus 8 anak (ha ha ha..) di sela kesibukan yang luar biasa.. #Industri4.0 #bersamamuindonesiamaju #menujuindonesiamaju

Sebuah kiriman dibagikan oleh Airlangga Hartarto (@airlanggahartarto4.0) pada

Ceko memandang RI menjadi mitra yang penting karena letaknya sangat strategis dengan jumlah penduduk besar sehingga sangat berperan dalam menjaga stabilitas dan keamanan di kawasan Asia Tenggara khususnya, serta Asia Pasifik pada umumnya.

"Di samping itu, Ceko melihat Indonesia berperan aktif dalam kerjasama regional seperti ASEAN, APEC dan ASEM," tuturnya.

Saat ini, Pemerintah RI tengah memacu pertumbuhan ekonomi nasional dengan menggenjot sektor industri manufaktur. Salah satu yang menjadi andalan adalah industri baja.

Industri ini dikategorikan sebagai sektor induk (mother of industry) karena produknya merupakan bahan baku utama yang diperlukan bagi kegiatan manufaktur di sektor lainnya.

Oleh karena itu, Kemenperin mengakselerasi pembangunan klaster industri baja di Batulicin, Kalimantan Selatan dengan target produksi mencapai 6 juta ton baja per tahun.

Selanjutnya, klaster industri baja di Cilegon, Banten dengan target produksi sebesar 10 juta ton baja tahun 2025, serta klaster di Morowali, Sulawesi Tengah yang akan memproduksi stainless steel hingga 3,5 juta ton pada 2020.

"Dengan produksi industri baja nasional saat ini mencapai 8 juta ton per tahun, menempatkan Indonesia di peringkat ke-6 di Asia sebagai produsen baja kasar," ujar Airlangga.

Apabila produksi industri baja nasional ini diekspor ke Ceko dan beberapa negara Eropa lain, tentunya akan membuka banyak lapangan pekerjaan baru di Indonesia. Dengan begitu, pertumbuhan ekonomi Indonesia akan terus meningkat. [esy]

Berikan Komentar
Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini