Ribuan warga dari berbagai daerah memadati gelaran Festival Ngopi Sepuluh Ewu di Jalan Desa Adat Kemiren, Kecamatan Glagah, Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur, pada Sabtu (8/11) malam. Acara tahunan ini telah menjadi magnet bagi wisatawan lokal maupun mancanegara sejak pertama kali diselenggarakan pada tahun 2014. Kehadiran ribuan pengunjung ini menunjukkan antusiasme tinggi masyarakat terhadap budaya dan kopi khas Banyuwangi.
Festival Ngopi Sepuluh Ewu, yang secara harfiah berarti "minum kopi sepuluh ribu", bukan sekadar ajang menikmati kopi gratis. Lebih dari itu, momentum ini menjadi sarana penting untuk memperkenalkan kopi Banyuwangi yang kualitasnya telah dikenal luas hingga ke luar negeri. Selain itu, festival ini juga berperan besar dalam mempererat kebersamaan dan persaudaraan antarwarga, menciptakan suasana hangat dan penuh keakraban.
Bupati Banyuwangi, Ipuk Fiestiandani, turut hadir dan berinteraksi langsung dengan warga, menikmati kopi bersama tanpa sekat. Kehadiran Bupati menegaskan dukungan pemerintah daerah terhadap inisiatif budaya seperti Festival Ngopi Sepuluh Ewu. Festival ini tidak hanya melestarikan tradisi tetapi juga mendorong pemberdayaan ekonomi lokal.
Advertisement
Advertisement
Mengenalkan Kopi dan Budaya Lokal
Festival Ngopi Sepuluh Ewu telah menjadi agenda tahunan yang dinanti-nantikan, menarik ribuan pengunjung setiap kali diselenggarakan. Sejak dimulai pada tahun 2014, acara ini secara konsisten berhasil mempromosikan kekayaan kopi Banyuwangi yang memiliki cita rasa khas. Kopi robusta dari Banyuwangi disuguhkan secara gratis kepada para pengunjung, memberikan pengalaman langsung akan kualitas produk lokal.
Menurut Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani, "Momentum ini selain mengenalkan kopi Banyuwangi yang telah dikenal luas hingga ke luar negeri, juga menjadi sarana mempererat kebersamaan dan persaudaraan antarwarga." Pernyataan ini menggarisbawahi tujuan ganda festival: promosi produk unggulan daerah dan penguatan ikatan sosial masyarakat. Festival ini juga menjadi wadah bagi masyarakat Osing untuk menunjukkan keramahan dan kekayaan budayanya.
Sepanjang jalan utama Desa Adat Kemiren, suasana berubah menjadi warung kopi dadakan yang meriah. Deretan depan rumah warga disulap menjadi tempat ngopi yang nyaman, lengkap dengan meja, kursi, hingga area lesehan. Selain kopi, pengunjung juga disuguhi aneka kudapan tradisional masyarakat Osing seperti kucur, tape ketan yang dibungkus daun kemiri, dan pisang goreng, semuanya disajikan dengan penuh kehangatan.
Advertisement
Advertisement
Apresiasi Internasional untuk Desa Kemiren
Keberhasilan Festival Ngopi Sepuluh Ewu tidak terlepas dari peran aktif dan kekompakan warga Desa Kemiren. Desa ini patut berbangga karena tahun ini berhasil meraih dua penghargaan bergengsi di tingkat dunia. Penghargaan tersebut adalah Internasional The 5th ASEAN Homestay Award dan The Best Tourism Villages Upgrade Programme 2025 dari Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) melalui United Nations Tourism (UN Tourism).
Bupati Ipuk Fiestiandani menyatakan apresiasinya terhadap pencapaian Desa Kemiren. "Pemerintah daerah selalu mendukung untuk bisa menjaga budaya Banyuwangi secara bersama-sama," ujarnya. Dukungan ini menunjukkan komitmen pemerintah daerah dalam melestarikan warisan budaya dan mengembangkan potensi pariwisata yang berbasis komunitas.
Kepala Desa Kemiren, M Arifin, menjelaskan bahwa festival ini telah berlangsung selama 12 tahun berkat dukungan dan kekompakan warganya. Prestasi internasional yang diraih Desa Kemiren semakin menegaskan posisi desa ini sebagai destinasi wisata budaya yang unggul. Festival Ngopi Sepuluh Ewu menjadi salah satu pilar penting dalam mempertahankan dan mempromosikan identitas budaya Osing.
Advertisement
Advertisement
Filosofi "Suguh, Gupuh, Lungguh" dalam Festival
Kegiatan Festival Ngopi Sepuluh Ewu tidak dapat dipisahkan dari filosofi yang dipegang teguh oleh masyarakat Osing, yaitu "suguh, gupuh, lungguh" dalam menerima tamu. Filosofi ini menjadi landasan utama keramahan dan pelayanan yang diberikan kepada setiap pengunjung festival. Konsep ini mencerminkan nilai-nilai luhur masyarakat lokal dalam menghormati dan menyambut kedatangan orang lain.
M Arifin, Kepala Desa Kemiren, menjelaskan makna dari filosofi tersebut: "Suguh berarti suguhan atau hidangan, gupuh artinya antusias dalam menerima tamu, dan lungguh (duduk) memiliki filosofi menyiapkan tempat sebaik-baiknya bagi setiap tamu yang datang." Implementasi filosofi ini terlihat jelas dari cara warga menyambut pengunjung dengan ramah, menyuguhkan kopi robusta khas Banyuwangi dalam cangkir warisan turun-temurun, serta menyediakan aneka kudapan tradisional.
Festival Ngopi Sepuluh Ewu adalah bentuk nyata dari "suguh, gupuh, lungguh" masyarakat Osing dalam menerima tamu. "Kegiatan ini juga menjadi sarana pemberdayaan ekonomi warga, sekaligus menjaga warisan budaya," tambah Kades Arifin. Kehadiran selebgram Winona Araminta bersama keluarganya di festival ini turut menambah daya tarik dan jangkauan promosi acara, menunjukkan bahwa festival ini relevan bagi berbagai kalangan.
Advertisement
Sumber: AntaraNews