RI Bisa Ambil Peluang Ekspor Produk Pangan Halal Meski Ada Krisis

Selasa, 24 Mei 2022 18:31 Reporter : Siti Nur Azzura
RI Bisa Ambil Peluang Ekspor Produk Pangan Halal Meski Ada Krisis Wapres Maruf Amin. ©2022 Merdeka.com

Merdeka.com - Wakil Presiden Ma'ruf Amin mengatakan, Indonesia dapat mengambil kesempatan untuk menjadi pengekspor makanan halal meskipun krisis pangan tengah dialami berbagai negara di dunia. Berdasarkan laporan Status Ekonomi Islami Global 2022, pada 2021 ada sekitar USD1,27 triliun pengeluaran dari 1,9 miliar warga muslim untuk konsumsi makanan dan minuman.

"Justru kita sedang mengembangkan stoknya (makanan halal). Ini sudah mulai tumbuh. Sebenarnya produk kita itu banyak, hanya memang standarnya harus dikurasi untuk bisa menjadi standar bersaing ekspor. Hanya itu saja," kata Ma'ruf Amin di Thamrin City Jakarta, dikutip Antara, Selasa (24/5).

Indonesia menduduki pasar pertama makanan halal yaitu senilai USD146,7 miliar disusul Bangladesh (USD125 miliar), Mesir (USD120,1 miliar), Pakistan (USD87,7 miliar) dan Nigeria (USD86,2 miliar). Sedangkan 5 besar negara pengekspor makanan halal di dunia adalah Brazil (USD16,5 miliar), India (USD15,4 miliar), Ameriksa Serikat (USD13,2 miliar), Rusia (USD12,7 miliar) dan China (USD9,5 miliar).

"Tadi saya lihat juga produk-produk kita sudah masuk (ke pasar retail). Kalau sudah masuk di retail modern itu berarti sudah siap ekspor. Packagingnya sudah, sertifikasi sudah, berarti kualitasnya sudah. Karena itu kita dorong dulu supaya masuk dulu di retail modern, domestik, kemudian akan dipandu untuk bisa diekspor," imbuhnya.

Menurutnya, Indonesia sudah memiliki modal untuk ekspor produk halal, tinggal bagaimana meningkatkan produk yang sudah ada. Dia pun mengapresiasi pengusaha-pengusaha retail dalam memasarkan produk halal di Indonesia.

"Di masing-masing kota, wilayah melalui toko-toko mereka dan ada juga scan halal, yang bisa dicek kebenarannnya, originalitasnya. Saya tadi sudah coba apakah ini bersertifikat halal atau tidak itu kan bisa langsung diketahui melalui barcodenya," ungkapnya.

Berdasarkan data yang sama, sektor makanan halal yang naik ke peringkat ke-2 yaitu senilai 1,26 triliun dolar AS.

"Sektor makanan halal menarik untuk dicermati karena dunia saat ini menghadapi persoalan yang sama, yaitu keamanan pangan. Inflasi harga dan gangguan rantai pasok akibat krisis iklim maupun kondisi geopolitik, justru membuka peluang peningkatan perdagangan intra-OKI, investasi pada riset dan inovasi teknologi pangan hingga digitalisasi sistem ketertelusuran halal," tambah Wapres.

Dia menyebut, ada pekerjaan besar yang menuntut keterlibatan seluruh sektor dalam ekosistem ekonomi dan keuangan syariah untuk saling menyangga dan bekerja sama, sebagaimana prinsip saling tolong menolong (ta'awun) dalam Islam. [azz]

Baca juga:
Proses Panjang Mengganti Logo Halal
Sertifikasi Halal Gratis, Kemenag Siapkan 25.000 Kuota untuk UMK
Kenali Jenis, Tarif dan Kriteria Usaha Saat Urus Sertifikat Halal
Jangan Sampai Bayar Lebih, Ini Tarif Resmi Permohonan Sertifikasi Halal
INFOGRAFIS: Ada Label Halal Indonesia, Bagaimana dari MUI?
BPJPH: MUI Tetap Dilibatkan Proses Sertifikasi Halal Tinjauan Fatwa

Komentar Pembaca

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini