Belanja Rokok Warga RI Lebih Banyak Dibanding Daging dan Susu

Data BPS menunjukkan konsumsi rokok menyedot porsi besar belanja rumah tangga. Angkanya melampaui daging, telur, dan susu. Ini rinciannya.

Idris Rusadi Putra
Oleh Idris Rusadi Putra - Reporter
Belanja Rokok Warga RI Lebih Banyak Dibanding Daging dan Susu
Ilustrasi berhenti merokok. Photo by Julia Engel on Unsplash

Di tengah agenda penurunan stunting dan perbaikan gizi, konsumsi rokok masih menyerap porsi besar pengeluaran rumah tangga Indonesia. Data terbaru menunjukkan belanja untuk rokok dan tembakau melampaui alokasi untuk pangan bergizi seperti daging, telur, dan susu.

Berdasarkan publikasi Badan Pusat Statistik (BPS) berjudul "Pengeluaran untuk Konsumsi Penduduk Indonesia Maret 2026", rata-rata pengeluaran per kapita sebulan untuk kelompok rokok dan tembakau mencapai Rp 94.180. Porsinya setara 11,57% dari total pengeluaran makanan, sehingga menjadi komoditas terbesar kedua setelah kelompok makanan jadi.

BPS merinci perbandingan belanja pangan sumber protein dengan rokok. "Rata-rata pengeluaran per kapita sebulan penduduk Indonesia untuk mengonsumsi daging hanya sebesar Rp 40.352, sedangkan untuk telur dan susu sebesar Rp 44.915," tulis BPS dalam publikasinya, dikutip Minggu (11/10/2026).

Jika digabung, alokasi untuk daging, telur, dan susu bernilai Rp 85.267 per bulan—masih berada di bawah belanja rokok. Dibandingkan belanja buah-buahan yang rata-rata Rp 48.784 per kapita sebulan, pengeluaran untuk rokok juga mendekati dua kali lipat lebih besar.

Konsumsi Rokok di Desa Lebih Tinggi

Ketimpangan semakin mencolok saat melihat perilaku konsumsi di perdesaan. Di wilayah desa, alokasi untuk rokok dan tembakau tercatat lebih tinggi dibandingkan masyarakat perkotaan.

"Penduduk di daerah perdesaan mencatatkan rata-rata pengeluaran per kapita sebulan untuk rokok dan tembakau sebesar Rp 100.951," jelas BPS dalam laporan yang sama.

Untuk pangan bergizi, masyarakat desa rata-rata hanya mengalokasikan Rp 26.046 per kapita sebulan untuk daging, Rp 38.016 untuk telur dan susu, serta Rp 37.563 untuk buah-buahan.

Dengan demikian, di perdesaan belanja rokok per bulan hampir empat kali lipat dari belanja daging, sekaligus jauh melampaui gabungan belanja protein dan vitamin keluarga.

Tingginya porsi pengeluaran rokok di rumah tangga miskin dan perdesaan menegaskan tantangan berat dalam pengentasan masalah gizi buruk karena sebagian daya beli keluarga teralihkan untuk konsumsi non-produktif.

Rekomendasi