Kisah Seftiani, Jualan Bakso dan Dapat Rumah di Rempang Eco City

Sempat tinggal di rumah sementara, ibu muda di Batam ini kini bangkit dan raih kemandirian ekonomi lewat usaha bakso di Rempang Eco City. Bagaimana kisahnya?

Cinta Najwa Fauzi
Oleh Cinta Najwa Fauzi - Reporter
Kisah Seftiani, Jualan Bakso dan Dapat Rumah di Rempang Eco City
Seftiani, Warga Binaan Translokal Rempang Eco-City Kementrans.

Seftiani (23), warga asal Pulau Buluh, Batam, kini menatap masa depan dengan optimisme baru. Bersama suami dan anak pertamanya, ia mulai menata kehidupan di kawasan Rempang Eco City sebagai salah satu penerima manfaat program Transmigrasi Lokal (Translok) yang digagas Kementerian Transmigrasi.

Di tempat tinggal barunya, ibu muda yang tengah mengandung anak kedua ini mengandalkan usaha berjualan bakso seharga Rp15.000 per porsi untuk memenuhi kebutuhan harian keluarga.

Usaha bakso tersebut dapat ia jalankan berkat pendampingan dan pembinaan berkala dari Kementerian Transmigrasi. Seftiani menceritakan pengalamannya saat ditemui di sela-sela jualan pada ajang Festival Transmigrasi 2026 di Batam, Sabtu (10/10). Ia mengaku sudah satu tahun menetap di kawasan tersebut bersama keluarganya, bahkan sang ibu juga mendapatkan unit rumah di lokasi yang sama.

Translok merupakan salah satu program unggulan Kementerian Transmigrasi yang bertujuan mengentaskan kemiskinan sekaligus menangani konflik sosial-ekonomi melalui pemberdayaan masyarakat lokal.

Translok: Hunian dan Pembinaan bagi Warga Lokal

Melalui program ini, warga mendapatkan hunian tipe 45 berstatus hak milik dengan luas bangunan 45 meter persegi. Rumah tersebut dirancang ideal untuk satu keluarga yang terdiri atas ayah, ibu, dan dua anak, lengkap dengan dua kamar tidur serta pekarangan untuk mendukung kegiatan usaha.

Selain itu, pemerintah menyalurkan bantuan sembako tiap bulan sebagai bagian dari peningkatan catu pangan, serta pengiriman furnitur rumah secara berkala.

Sebelum resmi menempati hunian tetap di Rempang Eco City, para peserta wajib melewati masa transisi selama satu tahun di rumah sementara kawasan Kota Batam. Selama proses perpindahan tersebut, setiap kepala keluarga menerima uang jaminan sebesar Rp1,2 juta per bulan guna menjaga kestabilan ekonomi mereka hingga siap mandiri.

Masa Transisi dan Mekanisme Seleksi Peserta

Keikutsertaan warga dalam program unggulan ini juga melalui tahapan transparan dan selektif. Masyarakat dapat mendaftar secara mandiri atau melalui rekomendasi pengurus RT/RW setempat. Setelah mendaftar, calon peserta wajib mengikuti serangkaian tes kelayakan agar bantuan benar-benar tepat sasaran.

"Siapa yang mau daftar, silakan. Ada juga yang dari pilihan, dari RT, dari juga dari pembinaannya sendiri, itu juga ada pemilihan tes, gitu," ujar Seftiani pada Festival Transmigrasi 2026 di Batam.

Lewat program Translok, Kementerian Transmigrasi berkomitmen memberikan dukungan menyeluruh kepada masyarakat lokal, tak hanya berupa hunian gratis, tetapi juga pembinaan usaha dan jaminan kebutuhan dasar. Bagi Seftiani, peluang emas ini menjadi pijakan berharga untuk membangun masa depan keluarganya dari mangkuk bakso di Rempang Eco City.

Rekomendasi