MotoGP Mandalika 2026 Diproyeksi Dongkrak Ekonomi Rp5 Triliun

Dampak ekonomi MotoGP Mandalika 2026 diperkirakan hampir Rp 5 triliun. Antusiasme penonton naik, dan penyelenggara menyiapkan strategi jangka panjang.

Arthur Gideon
Oleh Arthur Gideon - Reporter
MotoGP Mandalika 2026 Diproyeksi Dongkrak Ekonomi Rp5 Triliun
Pembalap Aprilia Racing asal Spanyol, Jorge Martin, memimpin di depan pembalap Ducati Lenovo Team asal Spanyol, Marc Marquez, dalam balapan MotoGP Grand Prix Jepang di Mobility Resort Motegi, Motegi, Prefektur Tochigi, pada 4 Oktober 2026. (Toshifumi KITAMURA/AFP)

MotoGP Mandalika 2026 diposisikan bukan hanya sebagai ajang balap, tetapi juga penggerak ekonomi dan pariwisata Nusa Tenggara Barat (NTB). Pertamina Grand Prix of Indonesia 2026 di Pertamina Mandalika International Circuit pada 9-11 Oktober 2026 diperkirakan menciptakan dampak ekonomi hampir Rp 5 triliun.

Deputy CEO MotoGP Sports Entertainment Group Carlos Ezpeleta menekankan pentingnya pasar Indonesia bagi pengembangan MotoGP di Asia.

“Indonesia merupakan pasar yang sangat penting bagi MotoGP. Besarnya antusiasme penggemar, termasuk tingginya penjualan tiket, menunjukkan bahwa Indonesia memiliki basis penggemar yang kuat. Kami melihat potensi yang besar untuk terus mengembangkan MotoGP di Indonesia, tidak hanya dari sisi olahraga, tetapi juga dari sisi ekonomi dan pariwisata,” ujar Carlos.

Secara global, MotoGP memiliki lebih dari 632 juta penggemar dengan jangkauan siaran mendekati 200 negara, sehingga gelaran Mandalika menjadi etalase destinasi dan potensi ekonomi Indonesia ke pasar internasional.

MotoGP Mandalika 2026 menjadi tahun kelima penyelenggaraan sejak 2022. Jumlah penonton terus meningkat: 102.929 orang pada 2023, 121.252 orang pada 2024, lalu mencapai 140.324 orang pada 2025.

Tren tersebut memperkuat Mandalika sebagai destinasi sport tourism yang menarik minat wisatawan dan pelaku industri pendukung.

Pariwisata NTB Terdorong: Penerbangan Tambahan dan Hunian Tinggi

Ekosistem penyelenggaraan melibatkan sekitar 3.000 tenaga kerja lokal dan 600 UMKM. Chief Operating Officer Danantara Indonesia Dony Oskaria menilai konsistensi lima tahun penyelenggaraan ikut menggerakkan berbagai sektor pariwisata NTB.

“Setelah lima tahun, kami melihat MotoGP memberikan pengaruh yang sangat signifikan terhadap perkembangan pariwisata di NTB. Trafik menuju Mandalika terus berkembang, diikuti pertumbuhan hotel, restoran, penerbangan, dan berbagai aktivitas ekonomi lainnya. Ini menunjukkan bahwa sebuah event internasional dapat menjadi katalis yang mendorong pertumbuhan ekosistem secara lebih luas,” ujar Dony.

Kebutuhan konektivitas menuju Lombok meningkat selama periode penyelenggaraan. InJourney Airports mencatat 66 penerbangan tambahan di Bandara Internasional Lombok selama periode MotoGP Mandalika 2026.

Dari total tersebut, 48 merupakan penerbangan tambahan, 11 penerbangan sewa (charter), empat penerbangan dengan penggantian pesawat berukuran lebih besar, serta tiga positioning flight.

Di sisi akomodasi, tingkat hunian di kawasan sekitar Mandalika dilaporkan mendekati 100 persen jelang balapan.

Talenta Lokal di Ekosistem MotoGP Mandalika

Direktur Utama InJourney Maya Watono menegaskan ajang ini harus memberi manfaat berkelanjutan, tidak sebatas tiga hari balap. “MotoGP Mandalika bukan sekedar tiga hari balapan namun lebih dari itu, yang kita bangun adalah legacy untuk Indonesia dan event ini menjadi katalis untuk mengembangkan destinasi, memperkuat konektivitas, menggerakkan ekonomi lokal, sekaligus membawa Indonesia dan Mandalika ke panggung global. Karena itu, keberlanjutan MotoGP membutuhkan gotong royong lintas Kementerian, lembaga, BUMN, pemerintah daerah, dan seluruh stakeholders,” ujar Maya.

Pengembangan talenta lokal turut berjalan. Sebanyak 380 marshal asal NTB telah mendapatkan pelatihan sesuai standar Fédération Internationale de Motocyclisme (FIM). Sejumlah marshal bahkan berkesempatan bertugas di ajang balap internasional di luar negeri, termasuk Sepang, Malaysia.

Di lintasan, Indonesia memiliki pembalap yang bersaing di level dunia, yakni Mario Suryo Aji di Moto2 dan Veda Ega Pratama di Moto3.

Maya menambahkan tolok ukur keberhasilan tidak hanya di podium. “Pada akhirnya ukuran keberhasilan MotoGP bukan hanya siapa yang menjadi juara di lintasan namun keberhasilannya juga harus terlihat dari seberapa besar ekonomi yang tumbuh, seberapa kuat Indonesia dikenal dunia, dan berapa banyak talenta Indonesia yang lahir dari ekosistem yang dibangun. Itulah legacy yang ingin kita jaga bersama,” tutup Maya.

Rekomendasi